Artikel (Hasil Wawancara)

PANDANGAN MASYARAKAT LAMBARO TERHADAP PENDUDUK JEPANG
BERDASARKAN TUTURAN LISAN HASYIM BINTANG

KARYA : CUT MILA MANDASARI

Pada kesempatan kali ini kami memilih seorang Informan bernama Hasyim Bintang, yaitu anak ke dua dengan empat bersaudara dari pasangan Bintang dan Zubaidah. Beliau lahir pada tahun 1926 di gampong Pasie Lamgarot Aceh Besar dan sekarang menetap di Gampong Bada bersama Istri dan Anaknya. Jika dihitung maka usia saat ini ialah 92 tahun. Meski dengan usia yang hampir menginjak 1 abad, ingatannya beliau masih terbilang baik dan dapat dipercaya walaupun dengan kondisi fisik yang mulai sedikit lemah.

Dengan demikian tidak terbantahkan bahwasanya beliau adalah orang yang hidup pada tiga masa, yaitu masa Belanda, Jepang dan masa sekarang. Sehingga kami memilih beliau untuk diwawancara sebagai saksi langsung atas peristiwa sejarah yang terjadi di daerah Lambaro dan sekitarnya.

Dimasa pemerintahan Belanda rakyat diperintahkan kerja paksa membuat jalan-jalan di gunung yaitu seperti jalan lintas Barat Selatan sebagai sarana transportasi mereka dalam melakukan perjalanan. Begitu pula dengan pohon Asam yang ditanam sepanjang jalan merupakan hasil dari kerja paksa rakyat Aceh. Namun tidak diketahui apa motif dibalik pemerintah Belanda melakukan penaman Pohon Asam tersebut. Hanya sedikit yang terekam dalam ingatan tentang fakta pemerintahan pada masa Belanda, dikarenakan pada masa itu beliau masih anak-anak yang bahkan belum menginjak rusia 15 tahun.

Berbeda dengan masa pemerintahan Belanda, pada masa pemerintahan Jepang banyak hal yang dapat diingat. Bahasa Jepang tidak lagi di anggap susah, bahkan lagu Jepang menjadi lagu sehari-hari dalam melakukan kegiatan dan mereka sedikit mengajarkan bahasa Jepang kepada penduduk. Jepang masuk ke Aceh pada tahun 1942 di Krueng Raya Aceh Besar. Pada masa itu tidak ada penolakan terhadap masuknya Jepang ke Aceh karena masyarakat menganggap Jepang akan menyelamatkan rakyat dari penjajahan Belanda. Namun itu salah karena tujuan kedatang Jepang akhirnya tidak jauh berbeda dengan tujuan kedatangan Belanda itu sendiri.

Utusan Jepang saat itu berada dimana-mana. Setiap daerah yang terbagi berdasarkan gampong memiliki mata-mata (inteligent) yang bertugas mengawasi keadaan gampong tersebut. Gampong-gampong diawasi oleh tiga orang utusan Jepang, di Pasi lamgarot yang bertugas mengawasi adalah kana maru, sano dan wata ri za. Markas untuk melapor terletak di Lambaro dan pusatnya ada di Keraton Banda Aceh. Pada masa itu beliau bekerja sebagai juru masak dan pencuci pakaian untuk tiga mata-mata tersebut. Setiap hari bertugas menghidangkan makanan untuk mereka.

            Tidak ada kendala ataupun kekerasan fisik yang diterima selama menjadi juru masak. Hanya saja pada suatu hari pihak Jepang memutuskan ingin menjadikanya sebagai tentara mereka dan tidak lagi bertugas sebagai juru masak, namun yang terjadi adalah beliau menolak dan melarikan diri untuk sementara waktu agar pihak Jepang mengurungkan niatnya. Pada akhirnya keputusan itu tidak jadi dilakukan.

            Setelah beliau melarikan diri, utusan Jepang dari keraton memerintahkan seseorang yang dikenal pemberani benama kechik Sulaiman untuk mencari warga yang akan dilatih, dengan tujuan ingin dijadikan sebagai tentara Jepang sebanyak 20 orang dan akan dibawa ke Durung. Karena tidak dapat mengumpulkan warga sebanyak yang di harapkan pihak Jepang, kechik Sulaiman diancam akan dibunuh oleh utusan Jepang dari keraton Banda Aceh yang bernama Mizu. Tidak terima dengan perlakuan Jepang, akhirnya terjadilah percekcokan yang berakhir dengan tamparan yang mendarat di wajah utusan Jepang tersebut.

            Hal tersebut jelas membuat tentara Jepang berang dan marah besar sehingga mengejar keuchik Sulaiman. Keributan tak dapat dihindarkan dan Mizu telah mengeluarkan samurainya untuk memenggal leher orang yang dianggap telah bderani menginjak-nginjak harga dirinya, namun keberuntungan masih berpihak kepada kechik Sulaiman yang masih sempat melarikan diri. Tak tinggal diam pihak Jepang memutuskan untuk mendatangi kediaman kechik Sulaiman yang berada di gampong Lubuk dengan tujuan menculik istrinya dan akan di bawa ke Keraton.

Penculikan tersebut dilaporkan dengan cepat kepada Abu Sayed Umar oleh saudara dari istri keuchik Sulaiman. Abu sayed adalah seorang yang keramat dan ditakuti oleh Jepang. Istri beliau dibawa menggunakan mobil panser Jepang melewatin gampong Lubuk, Dham Pulo, Dham Ceukok dan ketika sampai di Pasie Lamgarot Abu Sayed menemui para tentara Jepang dan memerintahkan mereka menurunkan istri keuchik Sulaiman, namun perintah tersebut tidak didengarkan dan tentara Jepang tetap ingin melanjutkan perjalanan.

Kemudian Abu Sayed menancapkan tongkat yang ada pada tangan beliau di tanah dan seketika semua mobil tentara Jepang mati mesin dan tidak bisa dijalankan lagi. Terpaksa tentara Jepang menurunkan istri keuchik Sulaiman dan baru setelah itu mobil bisa di hidupkan kembali. Para Utusan Jepang pun menjadi sangat takut dan langsung memanggil beliau dengan sebutan Tuan Keramat. Dengan putus asa utusan Jepang kembali ke keraton tanpa membawa apapun dan keadaan menjadi kembali tenang.

Setelah kejadian tersebut Hasyim Bintang kembali lagi ke kampungnya menjadi juru masak seperti semula, namun tugas sebagai juru masak tidak lagi berlangsung lama karena setelah itu warga termasuk beliau diperintahkan bekerja sebagai kuli angkat batu di Glee Blang Bintang. Batu-batu tersebut digunakah untuk membuat lapangan dan benteng. Lapangan udara sekarang atau yang lebih dikenal dengan Bandara Sultan Iskandar Muda dibangun pada masa Jepang dan itu bukanlah lapangan udara pertama, melainkan lapangan udara kedua setelah Lhoknga. Pekerjaan sebagai pemecah batu tidak dilakukan secara cuma-cuma tetapi digaji oleh Jepang.

Pada masa itu warga Lambaro dan sekitarnya berada dalam keadaan mengkhawatirkan. Kesenjangan ekonomi terjadi dalam masyarakat yang semakin memburuk hari demi hari. Banyak dari mereka yang diperintahkan kerja paksa bahkan ada juga terkadang mendapat perlakuan kasar saat melakukan kesalahan. Namun dibalik itu penderitaan yang sesungguhnya adalah ketika keinginan untuk makan saja sangat sulit dan rakyat merasa begitu kelaparan, wabah penyakit menyebar dengan sangat cepat, dan setiap orang rata-rata hanya memiliki pakaian satu pasang saja.

Menaruh dendam pada Jepang yang berperilaku semena-mena, mengetahui bahwa tentara Jepang sering melakukan terjun payung di lahan-lahan kosong dan sawah-sawah, maka warga yang memiliki sawah mengsiasati sawah-sawahnya di daerah sekitar Lambaro dan Lamtengoeh dengan memasang pacang sehingga mereka tidak bisa mendarat dengan bebas. Pacang adalah sejenis ranjau darat yang terbuat secara tradisional dari kayu atau bambu dan kemudian ditancapkan kedalam tanah dengan ujungnya yang runcing mengahadap ke atas.

Tanggal 6 dan 9 Agustus 1945 Hiroshima dan Nagasaki dijatuhkan bom atom oleh sekutu sehingga membuat Jepang gentar dan menyerah tanpa syarat kepada Indonesia. Tepat pada 17 Agustus 1945 Indonesia pun menyuarakan kemerdekaannya yang dipelopori oleh Soekarno dan Hatta.
Setelah merdeka beliau diangkat menjadi Tentara Mujahidin dan dipilih sebagai Sersan mayor oleh Tgk Arshad di gampong Lamtengoeh. Tujuannya adalah untuk melatih tentara yang lainnya, namun ada beberapa dari mereka yang menolak dengan alasan bahwa Hasyim Bintang bukanlah warga Lamtengoeh melainkan warga Pasi Lamgarot sehingga tidak boleh untuk melatih warga yang lain. Namun akhirnya tidak ada yang bisa membantah perintah yang telah diputuskan oleh Tgk Arshad. Mereka harus menerima dengan lapang dada. Beliau hanya melatih pemuda-pemuda sebatas gampong sendiri dan gampong sekitarnya.

Ada penggalan lagu penuh semangat yang masih terekam hingga sekarang dalam memori Hasyim Bintang. Yaitu lagu ketika ia melatih tentara-tentara mujahidin. Ingatan tentang bagaimana semangat perjuangan mereka saat memegang kayu ditangan kanan dengan 30 suara menyatu menjadi satu meneriakkan dengan lantang lirik-lirik penuh makna hingga tengah malam membuat beliau tersenyum ketika menceritakannya.

Berikut adalah penggalan lirik saat beliau latihan bersama tentara mujahidin:

Jangan kembali pulang
Kalau tidakkan menang
Walau mayat terantar di medan perang
Untuk bangsa dan tanah air
Izinkan aku pergi
Dibawah sang saka merah putih
Sampai negara kita abadi.

Semua yang telah dialami menjadi sejarah yang begitu penting bagi kehidupan manusia terutama bagi beliau sendiri sehingga dapat diceritakan kepada anak cucunya dimasa sekarang. Pada saat terakhir wawancara, satu pesan yang beliau sampaikan terhadap kita generasi muda ialah agar selalu bersyukur karna dapat hidup di masa yang serba kecukupan, tidak perlu merasakan kelaparan, penderitaan serta  penyiksaan dari para penjajah. Gunakan waktu dan peluang untuk terus belajar agar kita tidak lagi diperbudak oleh bangsa asing seperti yang telah dialami oleh beliau dan teman-teman seperjuangannya.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Time, Priority and Focus

Berhenti dan Pulang