Al-Tahtawi dan Pembaharuannya Oleh Nora Usrina
BAB I
PENDAHULUAN
Tahun 1798 adalah saat Napoleon Bonaparte menginjakkan kaki di
Mesir. Tahun itu sangat bersejarah. Para ahli sejarah sepakat, kedatangan
Bonaparte di Mesir merupakan tonggak penting bagi kaum Muslim dan juga bagi
bangsa Eropa.Bagi kaum Muslim, kedatangan itu membuka mata tentara Eropa yang
modern mampu menaklukkan dan menguasai jantung Islam. Bagi orang Eropa,
kedatangan itu menyadarkan betapa mudah menaklukkan sebuah peradaban yang di
masa silam begitu berjaya dan sulit ditaklukkan.
Begitu penting 1798. Albert Hourani, sejarawan Inggris keturunan
Lebanon, menjadikannya awal era liberal bagi bangsa Arab dan kaum Islam.
Seperti yang ia jelaskan dalam bukunya, Arabic Thought in the Liberal Age,
kedatangan Bonaparte ke Mesir bukan sekadar penaklukan militer, melainkan juga
awal kebangkitan kesadaran kaum Muslim akan diri mereka.Para pembaharu awal
seperti al-Tahtawi, al-Tunisi, dan al-Kawakibi menyadari betul kondisi kaum
Muslim yang terbelakang. Perhatian utama mereka: bagaimana mengubah keadaan ke
arah lebih baik. Mereka selalu membenturkan kondisi keterbelakangan kaum Muslim
dengan kemajuan Eropa.
Rifa’a al-Tahtawi (1801-1873) adalah salah satu tokoh pembaharu
pertama yang mencoba menjawab pertanyaan kenapa bangsa Eropa maju. Menurut
al-Tahtawi, kunci pertanyaan itu adalah “kebebasan” (hurriyyah). Bangsa Eropa
maju karena memiliki kebebasan. Temuan sains dan teknologi di Eropa sejak abad
ke-16 didorong oleh suasana kebebasan dalam masyarakat itu. Tahtawi menganggap
kebebasan bukan hanya kunci bagi kebahagiaan, tapi juga bagi keamanan dan
kesejahteraan.
Sebab utama keterbelakangan kaum Muslim, menurut Tahtawi, ialah
ketiadaan kebebasan itu. Kebebasan berpikir yang dalam istilah agama dikenal
dengan ijtihad justru dimusuhi dan diharamkan. Selama rentang abad ke-15-ke-19,
wacana pemikiran Islam diwarnai dengan semangat menutup pintu ijtihad.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Riwayat Al-Tahtawi
Al-Tahtawi nama lengkapnya adalah Rafa`ah Badawi Rafi’ Al-Tahtawi,
lahir di kota Tahta, suatu kota yang terletak di mesir bagian selatan. pada
masa pemerintahan Muhammad ali, yaitu pada tahun 1802 M. Orang tuanya dari kaum
bangsawan, tetapi sedikit pengalaman. Namun keluarganya yang tradisi
keagamaannya kuat itu menjadikan al-Tahtawi tekun mempelajari Al-Qur'an sejak
kecil.[1]
Ketika umurnya 16 tahun ia
berangkat ke Kairo untuk belajar di Al-Azhar, dibawah pengawasan atau bimbingan
syekh Hassan Al-Attar. Al-Tahtawi adalah murid kesayangnya. Setelah lima ia
mendapat menyelesaikan studinya ( 1822 M ) Hasan Al-Attar banyak hubungan
dengan para ilmuwan Perancis yang datang dengan Napoleon ke Mesir.Karena
ketekunan dan ketajaman pikiran Al-Tahtawi, gurunya (syekh Al-Attar) selalu
memberikan dorongan agar selalu menambah ilmu pengetahuan.
Selesai studi di Al-Azhar, Al-Tahtawi mengajar di Universitas
tersebut selam 2 Tahun. Dan pada tahun 1824 M dapat juga raih gelar "
Master " pada Egyptian Army di Mesir. Pada tahun itu pula, diangkat
menjadi imam bagi mahasiswa-mahasiswa yang dikirim oleh Muhammad Ali ke Jomard
di paris, untuk bahasa Perancis dan ilmu-ilmu modern. Tetapi disamping tugasnya
sebagai imam, ia juga ikut belajar.
Selama 5 tahun di Paris, ia kursus privat bahasa Perancis, sehingga
dalam waktu lima tahun itu, ia mampu menerjemahkan sejumlah 12 buku dan
risalah, diantaranya risalah tentang sejarah Alexander Macedonia, buku-buku
mengenai pertambangan, ilmu bumi, akhlak dan adat istiadat berbagai bangsa,
risalah tentang ilmu teknik, hak-hak manusia, kesehatan jasmani dan sebagainya.[2]Selama
di Paris, Al-Tahtawi menghabiskan waktunya untuk membaca berbagai macam buku
ilmu pengetahuan.
Sekembalinya dari paris pada tahun 1832 M ke Mesir, ia diangkat
sebagai penerjemah dan sebagai guru Besar pada sekolah kedokteran perancis di
Kairo.Dua tahun kemudian (1835), ia pindah ke sekolah Artelery sebagai penterjemah
buku-buku ilmu teknik dan kemiliteran.
Setahun kemudian (1836) didirikan sekolah penerjemah ( Sechool of Foreign
Languages ) atau Sekolah Bahasa-bahasa Asing" dan Al-Tahtawi sebagai
direktur dan sebagai penanggung jawab harian "Al Waqa`al Mishriah ".
Setelah Muhammad Ali meninggal ( 1848 ) maka cucunya Abbas sebagai
gantinya, dan Al-Tahtawi kemudian dikirim ke Sudan sebagai kepala sekolah di
Kartoum. Setelah Abbas meninggal (1854) Al-Tahtawi kembali ke Mesir atas
panggilan pengganti Abbas, yaitu Said Pasya, ia diangkat sebagai direktur
sekolah Militer.Pada tahun 1863 M di Mesir dibentuk suatu badan yang bertugas
menterjemahkan undang-undang Perancis dan bermarkas di kantor yang namanya
" Translation Office " dan Al-Tahtawi menerbitkan majalah "
Raudatul Madaris " untuk " Munistry of Education ".
Al tahtawi sekembalinya dari mesir telah menterjemahkan buku-buku
di antaranya buku-buku tentang geografi, sejarah ( Raja-raja Perancis,
Raja-raja Charles XI, Charles V, filsafat Yunani ) dan Montesque dan Al Tahtawi
juga menulis buku-buku yang diterbitkan ( berupa tulisan atau karangan).
Di antara karangan-karangan Al Tahtawi adalah :
a.
Takhlisul Ibriz
fi Talkhish Pariz
b.
Manhij al Albab
al Mishriyah fi Manahijj al Adab al` Ashriyah.
c.
Al Mursyid al
Amin lil banat wa al banin
d.
Al- Qaul al
Said fi Ijtihad wa al Taqlid
e.
Anwar Taufiq al jalil fi Akhbar Mishar wa
Tautsiq Bani Ismail
f.
Al-Mazahib al
Arba`ah fi al Fiqh.
g.
Qanun al Tijari
h.
Al Tuhfat al
Maktabiyah fi al Nahw
i.
Al Manafi` al
Uminyah
B.
Ide-Ide Al
Tahtawi Dalam Pembaharuan
1.
Bidang
Pendidikan
Al Tahtawi semasa hidupnya banyak waktu yang dihabiskan untuk mengajar,
dan mengatur pendidikan. Dia menemukan ide-ide mengenai pendidikan dalam buku
yang ditulisnya. Dia menyatakan, bahwa pendidikan itu harus ada kaitannya
dengan masalah-masalah masyarakat dan lingkungannya.
Pemikiran Al Tahtawi mengenai pendidikan ada dua pokok yang di
nilai penting :
a)
pendidikan yang
bersifat universal dan emansipasi wanita. Pendidikan hendakmya bersifat
universal dan sama bentuknya bagi semua golongan, selain itu bahwa masyarakat
yang terdidik akan lebih muda dibina dan sekaligus dapat menghindarimasing-masing
dari pengaruh negatif. Pemikiran ini dinilai sebagai rintisan bagi pemikiran
pendidikan yang bersifat demokratis.
b)
mengenai
pendidikan bangsa. Menurutnya bahwa pendidikan bukan hanya terbatas pada
kegiatan untuk mengajarkan pengetahuan, melainkan juga untuk membentuk
kepribadian dan menenamkan patriotisme. Tanah air ialah tempat tinggal, tanah
kelahiran yang dinikmati setiap warganya.
Untuk melengkapi pemikiran pendidikan Al Tahtawi dilengkapi juga
ide pendidikannya dengan kurikulum yang dihubungkan kepentingan agama dan
Negara. Kurikulum yang dirumuskan oleh Al Tahtawi adalah sebagai berikut :
Pertama kurikulum
untuk tingkat pendidikan dasar terdiri atas mata pelajaran membaca, menulis
yang sumbernya adalah Al-Qur'an, nahwu dan dasar-dasar berhitung.
Keduauntuk tingkat
menengah ( tajhizi ) terdiri atas : pendidikan jasmani dan cabang-cabangnya,
ilmu bumi. Sejarah, mantiq, biologi, fisika, kimia, manajemen, ilmu pertanian,
mengarang, peradaban, sebagian bahasa asing yang bermanfaat bagi Negara.
Ketiga untuk menengah
atas ( `aliyah ) mata pelajaran terdiri atas : mata pelajaran kejuruan. Mata
pelajaran tersebut diberikan secara mendalam dan meliputi figh, kedokteran,
ilmu bumi dan sejarah.
Pemikiran tentang pendidikan yang diterapkan oleh Al Tahtawi di
tulis pada buku al-Mursyid al-Amin fi Tarbiyah al-Banin ( pedoman tentang
pendidikan anak). Buku ini menerangkan tentang ide-ide pendidikan yang meliputi
:
a)
pembagian
jenjang pendidikan atas tingkat permulaan, menengah, dan pendidikan tinggi
akhir.
b)
Pendidikan
diperlukan, kerana pendidikan merupakan salah satu jalan untuk mencapai
kesejahteraan .
c)
pendidikan
mesti dilaksanakan dan diperuntukan bagi segala golongan. Maka tidak ada
perbedaan antara pendidikan anak laki-laki dan anak perempuan. Anak-anak
perempuan harus memperoleh pendidikan yang sama dengan anak lelaki. Pendidikan
terhadap perempuan merupakan suatu hal yang sangat penting karena dua alasan,
yaitu :
a.
wanita dapat
menjadi istri yang baik dan dapat menjadi mitra suami dalam kehidupan sosial
dan intelektual.
b.
Agar wanita
sebagai istri memiliki keterampilan untuk bekerja dalamn batas-batas kemampuan
mereka sebagai wanita.
Al Tahtawi mengatakan bahwa
dia menginginkan agar para perempuan mempunyai langka yanglebih baik dalam
keluarganya. Karena tujuan pendidikan baginya, adalah untuk membentuk
personality tidak hanya mengabdikan ilmu yang dimiliki tetapi dengan pendidikan
itu akan tertanamkan penting kesejahteraan bagi keluarga dan merasakan
keharusan.[3]
Peran aktif dari berbagai lapisan masyarakat baik laki-laki maupun
perempuan diperlukan dimajukan peradaban dengan bekal pendidikan yang menjadi
hak seluruh warga Negara.Di Mesir hak-hak wanita pada masa kurang medapat
perhatian sehingga Al Tahtawi tergugah menulis buku : " Al Mursyid Al-Amin
Al Banat wal Banin " .
2. Bidang Ekonomi
Pemerintah yang baik, adalah pemerintah yang dapat mengajukan
ekonomi. Ekonomi yang maju kesejahteraan masyarakat dapat dijamin.Menurut Al
Tahtawi ekonomi Mesir, tergantung pada pertanian, ia memuji usaha di jalankan
Muhammad Ali dalam lapangan ini. Juga ia menekankan pendapat ahli ekonomi Eropa
mengatakan bahwa Mesir mempunyai potensi besar dalam lapangan ekonomi.
Memajukan ekonomi, sejahteraan dunia akan tercapai. Hal ini, adalah baru karena
tradisi dalam Islam untuk mementingkan kehidupan dunia.[4]
Al Tahtawi menekankan bahwa pembangunan perekonomian Mesir diawali
dengan kepedulian seluruh bangsa Mesir, sedangkan kunci adalah pendidikan yang
akan menghasilkan tenaga ahli terampil dalam masyarakat.Beberapa ide yang
dikemukan Al Tahtawi mengenai bidang ekonomi, termuat dalam karya tulisannya
" kitab Takhlish al Ibriz ila talkhis bariz " antara lain :
a)
Aspek
pertanian, orang Mesir terdahulu terkenal kaya hanya tergantung pada tanah
Mesir yang baik dan subur. Oleh karena itu bahwa, perlunya meningkatkan
perbaikan bidang pertanian misalnya penanaman pohon kapas, Naila Anggur,
zaitun, pemerilaharaan leba, ulat sutra, dan termasuk hal-hal yang berkaitan
dengan pertanian misalnya pupuk tanaman, irigasi yang cukup, sarana
pengangkutan.
b)
Dari aspek
transportasi, perbaikan jalan yang menghubungkan dari satu tempat ke tempat
lain, demikian juga jembatan dan pemasangan alat telekomunikasi untuk
mempermudah.
Buku atau karya At Tahtawi yang membahas secara rinci mengenai
bidang ekonomi, bisa dilihat dalam " Al Manaf al Umumiyyah ".
3. Bidang Kesejahteraan
Kemajuan suatu Negara, ditandai meratanya kesejahteraan rakyat dan
juga meningkatkan kegiatan perekonomian, sehingga stabilitas Negara dapat
dicapai.Sebagaimana diungkapkan oleh Tahtawi, dalam bukunya "Manahij"
bahwa manusia pada dasarnya mempunyai dua tujuan, yaitu menjalankan perintah
Tuhan dan mencari kesejahteraan didunia, sebagaimana yang dicapai oleh bangsa
Eropa modern. Oleh karena itu, kesejahteraan umat Islam harus diperoleh atas
dasar melakasanakan ajaran agama, berbudi pekerti baik dan ekonomi yang maju.[5]
Pemikiran Al Tahtawi ini, dilandasi oleh tiga hal yaitu :
a.
Mesir adalah
negeri yang subur tanahnya merupakan Negara agraris, bahkan perekonomiannnya
tergantung dari hasil pertanian.
b.
Mesir mempunyai
potensi yang besar dalam pembangunan ekonomi.
c.
Mesir pada
masa-masa fir'aun telah mencapai kejayaan dalam kesejahteraan rakyat dengan
berpegang teguh peda akhlak yang mulia.
Kesejahteraan merupakan tanggung jawab bersama, antara rakyat dan
pemerintah harus saling berkaitan. Kesejahteraan didunia sangat erat
hubungannya dengan kemajuan ekonomi. Sedang kemajuan ekonomi ditentukan oleh
semangat kerja dan pengabdian. Jadi menurut Al Tahtawi
"kesejahteraan"akan tercapai dengan dua jalan, yaitu berpegang pada
ajaran agama serta budi pekerti yang baik dan kemajuan ekonomi.
4. Bidang Pemerintahan
Ide Al Tahtawi tentang Negara dan masyarakat, bukan hanya sekedar
pandangan tradisional belaka, dan bukan pula hanya sebagai refleksi pengalaman
dan pengetahuan yang telah didapatnya di Paris. Tetapi merupakan kombinasi dan
persenyawaan dari keduanya. Dia mengemukakan contoh-contoh yang diteladani
yaitu Nabi Muhammad SAW. Dan para sahabat dalam melaksanakan pemerintahan yang
mempunyai hak kekuasaan mutlak, yang dalam pelaksanaan pemerintahannya harus
dengan adil berdasarkan undang-undang. Untuk kelancaran pelaksanaan
undand-ondang itu harus ditangani oleh tiga badan yang terpisah yaitu
Legislative, Executive dan judicative (Trias Politica Montesque).
Menurut Al tahtawi, masyarakat suatu Negara, terdiri dari empat golongan; doa gologan yang memerintah, dua
golongan yang lain diperintah. Dua golonan yang memerintah adalah raja dan para
ulama (dua para ilmuan). Sedang dua golonan yang diperintah adalah tentara dan
para produsen (termasuk semua rakyat).
Golongan yang diperintah (rakyat) ini, harus patuh dan setia kepada
pemerintah . Meskipun sebenarnya, seorang raja hanya bertanggung jawab kepada
Allah saja. Raja tidak boleh melupakan kepentingan rakyat. Raja harus
senantiasa harus ingat kepada Allah dan siksaan yang disediakan bagi orang yang
dzalim. Rasa takut seorang raja kepada Allah, akan membuat raja berlaku baik
kepada rakyatnya. Selain takut kepada Allah, tindak tanduk raja selalu
dikontrol oleh "pendapat umum". Oleh karena itu, antara yang memerintah
yang diperintah harus ada hubungan yang baik. Di balik itu, orang-orang yang
duduk dipemerintahan harus punya pendidikan yang tepat.[6]
Hubungan orang-orang pemerintahan dengan para ulama, harus serasi
dan hidup berdampingan. Kepala Negara atau raja haruus hormat kepada ulama
karena sebagai mitra dalam menjalankan roda pemerintahan. Demikian pula harus
dapat mengaktualisasikan peran dan fungsi syariat dalam kehidupan masyarakat.
Dengan demikian ulam harus menguasi perkembangan modern, membekali diri dengan
sains modern dan berperan aktif dalam membantu kepala Negara, ikut
bermunyawarah dalam menemukan kebijakan pemerintah.Ide-ide Al Tahtawi ini
dikemukakan agar dilaksanakan di Mesir, karena pada saat itu Mesir dikuasa pleh
pemerintah yang absolute dibawah pemerintahan Muhammad Ali dan kemudian
dilanjutkan oleh beberapa orang pasya.
5. Patrotisme
Al Tahtawi adalah orang Mesir yang pertama penganjur patriotisme.
Paham bahwa seluruh dunia Islam adalah tanah air bagi setiap individu muslim,
mulai di rubah penekannya. Al Tahtawi menekankan bahwa tanah air adalah tanah
tumpah darah seseorang, bukan seluruh dunia Islam. Ia berpendapat bahwa selain
adanya persaudaraan seagama, juga ada persaudaraan setanah air. Dalam
perkembangan dunia Islam selanjutnya persaudaraan tanah air ternyata lebih
dominan.
Patriotisme adalah dasar yang kuat untuk mendorong orang mendirikan
suatu masyarakat yang mempunyai pradaban. Kata " Wathan " dan "
Hubul Wathan " ( patriotisme) kelihatannya selalu dipakai oleh Patriotisme
adalah dasar yang kuat untuk mendorong orang mendirikan suatu masyarakat yang
mempunyai pradaban. Kata " Wathan " dan " Hubul Wathan " (
patriotisme) kelihatannya selalu dipakai oleh Al-Tahtawi dalam bukunya "
Manahaj" dan " Al-Mursyid ".Mewujudkan masyarakat yang sejati
dan patriotismeadalah bila setiap warga Negara punya hak kemerdekaan.
6. Ijtihad dan sains Modern
Memahami syari'at Islam menurut Al-Tahtawi merupakan sangat penting
dan memiliki kesadaran bahwa syari'at pasti senantiasa cocok untuk segala zaman dan tempat.Al Tahtawi
yakin akan pentingnya kesadaran bahwa syari’at pasti cocok untuk segala zaman
dan tempat. Untuk itu diperlukan usaha untuk menginterprestasi kembali syari’at
kepada situasi yang baru, sesuai dengan kebutuhan hidup zaman modern.
Ulama yang dibutuhkan untuk membangun pemerintah yang kuat dan
maju, adalah ulama yang ikut bertanggung jawab bersama kepala negara, ulama
yang berpikirdinamis, memiliki pengetahuan luas dan menjauhi sikap statis agar
mampu menginterprestasi kembali konsep agama sesual dengan tuntutan zaman.
Sains dan pemikiran rasional pada dasarya tidak bertentangan dengan
syari’at Islam. Karena itu, ijtihad harus dilakukan oleh ulama. Ulama harus
dapat merubah masyarakat yang berfikiran statis dan tradisional.Dalam bukunya
“Al Qaul al Sadid fi al ijtihad wa al Taqlid” menguraikan pentingnya ijtihad
dan syarat-syarat menjadi mujtahid, serta dalil dalil dan tingkatan para
mujtahid.[7]
Gagasan tersebut menjadi fokus penting dan pemikiran dan
pembaharuan Al Tahtawi. Oleh karena itu, sebagian besar hidupnya disumbangkan
untuk mendukung gagasannya dengan menerjemahkan buku buku agar umat Islam
mengetahui budaya yang maju di Barat. Disamping sebagai penulis dan menjadi
pimpinan dalam beberapa pendidikan.[8]
[1]First
Encyclopedia of Islam, A. Baba Beg, Leiden E. J. Brill. 1987, h 1155
[2]Ibid
. hal 43
[3]Hourani,
Albert. Arabic Thought in The Liberal Age 1798 — 1939, Cambridge Univ. Press,
Cambridge, 1961, hal 77-78
[4]Harun.
Islam Ditinjau dari berbagai Aspeknya. UI. Hal. 46
[5]Hourani,
Albert. Arabic Thought in The Liberal Age 1798 — 1939, Cambridge Univ. Press,
Cambridge, 1961, hal 72
[6]Harun.
Islam Ditinjau dari berbagai Aspeknya. UI. Hal47
[7]Najar,
HF. Al, Rafa ‘a!, Al Tahiawi, Dar al Mishriyah, Kairo, (t,th). Hal. 147 — 149
[8]Harun.
Islam Ditinjau dari berbagai Aspeknya. UI. Hal. 44
Komentar
Posting Komentar