Gerakan Ikhwanul Muslimin Di Mesir ( HASAN AL-BANNA)
GERAKAN
IKHWANUL MUSLIMIN DI MESIR ( HASAN AL-BANNA)
oleh : Arita Beru Tarigan
Riwayat
hidup Hasan Al-Banna
Hasan
Al-Banna lahir pada tahun 1906 M, di
Mahmudiyah, Provinsi Buhairah, Mesir,
suatu kota yang terletak di pinggiran sungai nil 90 mil dari kota Kairo. Ia
adalah putera dari Syekh Ahmad abd. Rahman Al-Banna, seorang ulama terkemuka
yang mempunyai keahlian di bidang fiqh, tauhid, ilmu hadits, dan Al-Qur’an.
Hasan
Al-Banna dibesarkan dalam lingkungan yang cinta ilmu pengetahuan. Ini dapat
dilihat dari jenjang pendidikan yang ia ikuti. Pertama-ama mengikuti sekolah
dasar pada madrasah Rasyad al-Diniyah yaitu ditempat kelahirannya.Ia belajar di
sekolah tersebut selama 7 tahun. Setelah itu al-Bana melanjutkan studi
kesekolah guru Darul Muallimin (1920), yaitu jurusan keguruan di Damanhur dan
dibuktikannya tamat 3 tahun.Setamat di Darul Muallimin al-Bana melanjutkan ke
Universitas Darul Ulum (1923) di Kairo.
Selesai mengikuti pendidikan,
al-Bana melanjutkan cita-citanya unutk menjadi guru dan juru dakwah.
Cita-citanya itu terealisasi dengan ditugas sebagai guru di Ismailiyah tepi
terusan Suez, disinilah ia memulai gerakan keislaman sebelum terbentuknya
Ikhwanul Muslimin. Selain itu ia tetap aktif mengamalkan tarekat Hasyafiyah
sejak usia 12 tahun sampai ia meninggal, bahkan ia pernah untuk mengembangkan
ajaran tarekat dengan mendirikan organisasi al-Jam’iyaat al-Hasyafiyah
al-Khoriyah yang berdirikan sufi dengan tujuan menghimpun para penamal tarekat
Hasyafiyah, sekaligus antisipasi terhadap kerakusan, kesombongan pada
masyarakat Mesir.
Pada bulan Maret 1928 M Hasan
Al-Banna bersama temannya mendirikan organisasi Ikhwanul muslimin di kota
islamiyah, dengan tujuan menciptakan masyarakat dan generasi baru dengan
pemahaman halistik (kaffah) dan menjadikannya sabagai cetak biru dalam
kehidupan paraktis. Tujuan ini dapat
tercapai dengan melakukan upaya:
1. Menyelamatkan
keyakianan dan berjihad untuk mantaati Allah dengan berpegang pada al-Qur’an
dan al-Hadits.
2. Mencintai
Allah dan senantiasa mejaga kesatuan umat
islam.
3. Menerapkan
moral Islam yang hanif.
4. Meningkatkan
kualitas diri sehingga mampu mencapai tingkat pengalaman (ma’rifat) kepada
Allah, dengan tetap memperdulikan dunia
5. Teguh
pada prinsip dan komitmen terhadap agama, sebagai prinsip paling agung.
6. Mencintai
kebenaran dan kebaikan melebihi dari segalanya.
Eksitensi
Ikhwanul Muslim ini dapat di jabarkan didalam 8 jalu sebagai berikut:
1. Gerakan
dakwah safari, yang senantiasa mempunyai komitmen terhadap al-Qur’an dan Hadits
2. Gerakan
suni, yang senantiasa bergerak pada sejarah sunnah yang suci dalam segala
aktivitasnya.
3. Gerakan
sufi, yang senantiasa berupaya membersihkan diri, perbaikan moral dan komitmen
terhadap kebaikan dan Tuhan.
4. Gerakan
politik yang senantiasa berupaya untuk pebaikan masyarakat dan menggerakkan
hidup nasional dan internasional, sehingga dapat berdampingan denagn Negara
lain.
5. Gerakan
kesehatan, yang senantiasa berupaya agar tetap dalam kondisi prima, kesehatan
dibutuhkan, karena pengalaman agama tidak akan sempurna tanpa kesehatan
tersebut.
6. Gerakan
intelektual, yang berupaya mengembangkan ilmu
pengetahuan dan kebudayaan.
7. Gerakan
ekonomi sesuai dengan prinsip Islam tentang managemen uang dan
pendistribusiannya.
8. Gerakan
sosial masyarakat, yang senantiasaberupaya mengadakan perbaikan sosial kemasyarakatan,
sehingga bebas dari patolgi sosial.
Pada tahun 1933 pergerakan Ikhwanul
Muslimin pindah dari kota Ismailiyah ke Kairo, alasan pemindahan ini adalah
untuk menguasai pusat pemerintahan Mesir. Konsekuensi logis adalah kantor yang
berada di Kairo menjadi kantor pusat pergerakan Ikhwanul Muslimin dan sekaligus
tempat pertemuan para pemimpin Islam dari berbagai negeri Islam yang pada saat
itu dunia islam sedang berada dibawah cengkeraman penjajah Barat.
Ketika
pemerintah Mesir dipegang oleh Ismail Shidqi Pasya, Hasan Al-Banna bersama-sama
dengan beberapa anggota Ikhwanul Muslimin menunaikan rukun Islam yang kelima
naik haji ke Mekkah al-Mukkaromah pada tanggal 27 Oktober 1946.
Hasan
Al-Banna dengan organisasi da’wahnya al-Ikhwanul Muslimin berupaya memperbaiki
keadaan masyarakat Islam agar benar-benar menjadi masyarakat yang islami di
samping berjuang melepaskan diri dari cengkeraman penjajah dan zionis Israel.Anggota-anggota
Ikhwan aktiv menjadi ujung tombak revolusi Palestina sejak tahun 1936 samapai
terjadinya pembubaran organisasi Ikhan oleh pemerintah Mesir pada tahun 1948.
Pembaharuan organisasi yang dipimpin oleh al-Bnna
itu disinyalir akibat desakan Negara Barat yang diiringi dengan penangkapan dan
pembunuhan para pemimpinnya.Al-Banna sendiri tidak ditangkap.Ia tampaknya
senagaja dibiarkan sendiri berada diluar penjara, agar mudah dibunuh oleh
suruhan peguasa Mesir waktu itu (Raja Farouk). Hasan Al-Banna meninggal dunia
pada tahun 1368 H, bertepatan dengan tanggal 12 februari 1949 M. Ia meninggal
karena dibunuh pasukan raja Farouk disalah satu jalan dikota Mesir. Menurut
keterangan lain dikatakan bahwa: “ hasan Al-Banna dibunuh oleh polisi keamanan
Negara atas perintah Raja Farouk”, karena selain Ikhwanul Muslimin dianggap
Konservatif oleh raja Faroyk, ide yang dibawa oleh Ikhwan bertolak belakang
dengan pemikiran Raja Farouk yaitu Ikhwan menginginkan pan-islamisme, kembali
pendapat salaf, sedangkan Raja Farouk bersifat nasionalisme, dan menyesuaikan
islam dengan pemikiran Barat. Memang sebelumnya seorang kesayangan Raja Farouk
yaitu Menteri Nuqrasyi Pasya dibunuh oleh milisi Ikhwanul Muslimin.Oleh karena
itu ebagai tindak lanjut pemipmpin Ikhwan pun harus dibunuh oleh colonel
Muhammad Abdul Majid.
Metode
pembaharuan Hasan Al-Banna
1.
Metode
tajdid Hasan al-Banna dalam menghidupkan akidah
Dalam
dakwahnya, Hasan al-Banna mencoba meluruskan pemahaman tentang akidah dan
menanamkannya ke dalam hati. Untuk tujuan itu, ia membuat dua risalah yang
berkaitan dengan akidah Islam.
2.
Tajdid
dalam fikih
Hasan al-Banna
menggunakan gaya Rasulullah dalam fikih, yaitu gaya pengamalan (al-uslu
al-amaly) dalam rangka pembaharuan fikih. Gaya ini memiliki pengaruh yang
signifikan, yang membuat kaum muslimin melihat kembali sikap sebagian mereka
dalam masalah perbedaan-perbedaan dalam fikih.
Dalam
pengantar kitab Fiqh as-Sunnah, Hasan al-Banna mengingatkan kepada kaum
muslimin bahwa agama Allah itu luas.Ia lebih luas dan lebih mudah dibandingkan
menghukumi pendapat individu maupun kelompok. Sedangkan segala sesuatu –kebenarannya
– dikembalikan kepada Allah, Rasulullah, kaum muslimin dan imam mereka.
Pembaharuan
fikih yang dilakukan Hasan al-Banna adalah dengan menjauhkan umat Islam dari
pembahasan njlimet terkait cabang-cabang fikih, pembuatan istilah-istilah
asing, dan asumsi- asumsi fikih atas hukum peristiwa yang belum terjadi.
Sebagai gantinya, Hasan al-Banna selalu mengkaitkan fikih manusia dengan
al-Quran dan as-Sunnah dengan gaya bahasa yang mudah dan sederhana. Gaya Hasan
al-Banna dan pembaharuan fikihnya ini telah menyebar luas. Sehingga, banyak
sekali bermunculan kitab-kitab fikih yang mengikuti gaya al-Banna ini. Di
antara kitab fikih yang paling terkenal adalah Fiqh as-Sunnah karya Syaikh
Sayyid Sabiq yang di dalamnya banyak menerjemahkan gagasan-gagasan al-Banna dan
pandangan fikihnya.
3.
Tajdid
dalam pendidikan Islam
Tidak
banyak karya-karya yang dihasilkan Hasan al- Banna dalam pendidikan.Hal ini
memang sengaja dilakukannya.Sebab, dalam pandangan al-Banna, tugas pokok
dirinya bukanlah membuat karya sebanyak mungkin, tapi bagaimana caranya
menciptakan para tokoh sebanyak mungkin.
Hasan
asy-Syurbaji dalam bukunya al-Imam asy-SyahibHasan al-Banna Mujaddid al-Qarn
ar-Rabi’ Asyar al-Hijry menceritakan bahwa banyak para ikhwan sebutan jamaah al- Banna – meminta Hasan
al-Banna supaya mengarang kitab yang merekam ilmu-ilmunya. Namun, permintaan
mereka ini selalu ditolak olehnya.Al-Banna mengakatan kepada mereka, “Saya
tidak mengarang kitab, tetapi tugas pokokku adalah menciptakan kader-kader
tokoh terbaik. Kader tersebut saya tempatkan di suatu daerah lalu ia
menghidupkannya.
Oleh
karena itu, melalui gerakan Ikhwanul Muslimin Syaikh Hasan al-Banna telah
berhasil membentuk generasi muslim yang memahami Islam secara benar, memiliki
keyakinan yang mendalam terhadap Islam, mempraktekkannya dan mengajak manusia
padanya serta berjihad di jalannya. Adapun faktor keberhasilan Hasan al-Banna
dalam mendirikan madrasah ini adalah keyakinannya yang begitu kuat bahwa
pendidikan merupakan satu-satunya cara mengubah masyarakat. Meskipun berat dan
memerlukan waktu yang lama, namun inilah jalan yang ditempuh Rasulullah.Hasan
al-Banna membuat metode pendidikan yang sumbernya al-Quran dan Sunnah
Rasulullah, dan menciptakan nuansa jamaah penuh kekeluargaan.Dalam dakwahnya
ini, Hasan al-Banna menggunakan berbagai macam sarana, seperti: ceramah dan
khutbah, seminar, kajian, slogan- slogan, nasyid, liqa’ (pertemuan rutin),
buku-buku, kelompok perkemahan dan olahraga, serta cara-cara lainnya.
Gagasan
tentang pembaruan pendidikan al-Banna banyak dituangkanya dalam kitab Majmuah
ar-Rasail (Himpunan Risalah) karyanya.Dalam risalahnya itu, Hasan al-Banna
membuat metode pendidikan yang dirumuskan dalam 10 prinsip, yang merupakan
ringkasan dakwah Ikhwanul Muslimin.Kesepuluh prinsip tersebut adalah pemahaman,
ikhlas, amal, jihad, pengorbanan, ketaatan, sahabat, tajarrud, persaudaraan,
dan percaya diri.
4.
Tajdid
dalam politik
Politik
dalam pandangan Hasan al-Banna adalah bagian dari agama.Sebab, Islam menurutnya
adalah agama dan negara.Sehingga, tidak mengherankan bila Ikhwan al-Muslimin
terjun ke dalam dunia politik. Selain politik dipandang sebagai bagian dari
agama, ia merupakan cara dakwah Ikhwanul
Muslimin.
Pengaruh Hasan
Al-Banna terhadap Pemikiran Islam Modern
Pengaruh Hasan al-Banna terhadap pemikiran
Islam modern bisa dilihat dari kontribusi yang diberikan oleh Jamaah Ikhawanul
Muslimin. Jamaah ini didirikan oleh Hasan al-Banna dan ia pula yang meletakkan
dasar dan tujuannya. Jamaah ini terus bekerja secara berkesinambungan melalui
rumah-rumah, masjid-masjid, sekolah-sekolah dan juga di parlemen, baik di Kairo
maupun di daerah-daerah lainnya, sehingga gerakan Ikhwanul Muslimin ini
merambah ke pelosok Mesir. Tidak hanya di Mesir, gerakan ini juga telah
merambah ke negara-negara Arab lainnya, seperti Sudan, Yaman, Yordania,
Palestina, Yaman, Irak, dan Maroko. Bahkan, gerakan ini sekarang sudah sampai
ke Eropa, Amerika, India, Pakistan, Australia, Afrika, Afganistan, dan juga
sampai di Indonesia.
Dalam bidang ibadah, Hasan al-Banna
merumuskan metode dalam beribadah yang didasarkan atas asas al-Qur`an dan
sunnah yang bisa membentuk kepribadian muslim. Sehingga, hal itu menjadi
benteng yang membentengi dari godaan kehidupan materialis, dan menyiapkannya
menjadi anggota yang salih di masyarakat.Untuk tujuan ini, Hasan al-Banna
membuat risalah al-Ma’surat.
Dalam bidang politik dan hukum,
Hasan al-Banna mengajak kepada penerapan syariah Islam di semua lini
kehidupan.Sebab, dalam pandangannya, syariat Islam adalah syariah Tuhan yang
hadir untuk menciptakan kemaslahatan manusia, dan bisa berkembang demi
menghadapi tantangan kehidupan melalui jalan ijtihad dan tajdid yang
berkelanjutan.
Dalam bidang ekonomi, Hasan al-Banna menyeru
pada independensi ekonomi umat Islam
dari hegemoni ekonomi asing, supaya kekayaan-kekayaannya bisa kembali pada
penduduk pribumi sekaligus persiapan memasuki era industri. Ajakan independensi
ekonomi umat dari hegemoni asing bukan dakwah teoritis saja, namun ajakan ini
dipraktekkan dan dijalankannya.Hasan al-Banna telah ikut berpartisipasi dan
menyokong perekonomian bangsa serta mengajak serta rakyat.Ia juga membuat
undang-undang khusus bagi Ikhwanul Muslimin yang isinya bahwa salah satu tujuan
Ikhwan adalah mengembangkan kekayaan bangsa, menjaga dan memerdekakannya. Ia
juga menyeru kepada para ikhwan supaya tetap menjalankan roda ekonomi sekalipun
ia kaya, menggunakan sebaik-baiknya kekayaan Islam umum dengan mendorong
industri dan sumber-sumber ekonomi Islam. Ia menyeru kepada para ikhwan supaya
tidak memakai pakaikan dan makan kecuali dari buatan negeri Islam.
Sedangkan di bidang jihad, Hasan
al-Banna ikut memerangi imperialism terutama Inggris baik secara tindakan
maupun tulisan-tulisannya.Ia sangat antusias mengingatkan umat Islam akan
kewajiban jihad di Palestina dari tangan para penjajah. Tindakan Hasan al-Banna
ini diterjemahkan dengan cara membentuk para pejuang jihad yang dikirim ke
Palestina pada tahun 1948 yang memperlihatkan bentuk pengorbanan dan
kepahlawanan yang begitu memukau. Hal ini yang membuat gentar dan ciut nyali
Israil.Sikap heroik para pejuang Ikhwan ini diakui betul oleh Musya Diyan di
Amerika.Ia pernah mengatakan, “Kami tidak perlu senjata untuk memerangi tentara
Arab, itu mudah bagi kami. Kami mencari senjata untuk memerangi sikap fanatisme
Ikhwan yang begitu mengerikan.Para pejuang Ikhawanul Muslimin di Palestina
terus-menerus memperoleh kemenangan.Seandainya bukan karena rekan kami Israil
dan kroni-kroninya di Mesir dan di luar Mesir, tentu kami tidak mampu
membendungnya.
Komentar
Posting Komentar