GERAKAN WAHABI
Oleh : Marhamah

1.      Biografi pendiri gerakan wahabi
Muhammad bin Abdul Wahab merupakan pendiri gerakan wahabi di Arab,nama lengkapnya adalah Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman At Tamimimi An-Najdi. Beliau lahir pada tahun 1115-1206 H/1701-1793 M di kampung Uyainah (Najed), lebih kurang 70 KM arah barat laut kota Riyadh, ibu kota Arab Saudi sekarang. Abdul Wahab tumbuh dan dibesarkan dalam kalangan keluarga berpelajar. Ayahnya dalah seorang ulama ahlussunnah di lingkungannya. Sedangkan kakanya juga seorang ulama ahlussunnah yang berjabat sebagai qadhi, tempat dimana masyarakat Najed menanyakan segala sesuatu  masalah yang bersangkutan dengan agama islam.[1]
Abdul Wahab adalah seorang teologi agama islam dan seorang tokoh pemimpin gerakan islam yang pernah menjabat sebagai mufti su’udiyyah yang kemudian berubah menjadi kerajaan Arab Saudi. Dengan bermodal kecerdasandan ditopang oleh semangat hidup yang tinggi Muhammad bin Abdul Wahab berpetualang keberbagai daerah tetangga untuk menuntut ilmu seperti daerah Basrah dan Hijar, sebagaimana lazimnya para ulama terdahulu. Dimana mereka membekali diri mereka dengan ilmu yang matang sebelum turun ke medan dakwah.
Muhammad bin Abdul Wahab hafal al-qu’ran sebelum usia mencapai sepuluh tahun, ia belajar fiqh dan hadits dengan ayahnya sendiri, dan beliau belajar tafsir dari guru-guru dari berbagai negara, terutama di Madinah al-Munawwarah serta memahami tauhid dari Al-Qur’an dan sunnah. [2]
Muhammad bin Abdul Wahab mengajarkan aqidah, al-qur’an al-karim, tafsir, fikih, hadits, mustahalah hadits, sebagai ilmu bahasa rab dan tarikh. Muhammad Abdul Wahab biasa mengirim surat kepada para ulamadan umara dari berbagai negara dan penjuru, menyeru mereka kepad agama Allah sehingga tersebar dakwah Muhammad bin Abdul Wahab. Setelah itu semakin banyaknya kedengkian, mereka  lantas berhimbau dan bersatu menentang Muhammad bin Abdul Wahab. Maka amir mengobarkan jihad dengan pedang dan tombak, dan peristiwa itu terjadi pada tahun 1158H. Muhammad bin Abdul Wahab membantunya sampai akhirnya dakwah Muhammad bin Abdul Wahab tersebar menyeluruh sampai ke penjuru alam dan gaung masih senantiasa bergema sampai saat ini. Muhammad bin Adbul Wahab berguru pada:
a.       Ayah beliau sendiri Asy-Syaikh Abdul Wahhab bin Sulaiman
b.      Asy-Syaikh Abdullah bin Ibrahim bin saif, yaitu ayah Asy Syaikh Ibrahim bin Abdullah pengarang kitab Al-Adzbu Al-Faidh fi’Ilmil Faraidh
c.       Asy-Syaikh Muhammad Hayah bin Ibrahim As-Sindi
d.      Asy-Syaikh Muhammad Al-Majmu’i Al-Bashri
e.       Asy-Syaikh Muanid Abdullah bin Salim Al-Bashri
f.       Asy-Syaikh Abdul Lathif Al-Afaliqi Al-AHSA’I
Murid-murid Mauhammad bin Abdul Wahab:
a.       Al-Imam Abdul Aziz bin Su’ud
b.      Al- Amir Su’ud bin Abdul Aziz bin Sulaiman
c.       Putra-putra beliau sendiri, Asy-Syaikh Husain, Asy-Syaikh Ali, Asy-Syaikh Abdullah dan Asy-Syaikh Ibrahim
d.      Cucu beliau Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan, penulis kitab Fathul Majid
e.       Asy-Syaikh Muahmmad bin Nashir bin Ma’mar
f.       Asy-Syaikh Abdullah Al-Hushain
g.      Asy-Syaikh Husain bin Ghannam
Muhammad bin Abdul Wahab mempunyai banyak karya tulis yang dengannya Allah berikan manfaat kepada islamisasi di antaranya:
a.       Kitabut Tauhid
b.      Ushulul Iman
c.       Kasyfusy Syubhat
d.      Tsalatsatul Ushul
e.       Mufidul Mustafid fi Kufri Tarikit Tauhid
f.       Mukhtashar Fathul Bari
g.      Mukhtashar Zadul Ma’ad
h.      Masa’il Jahiliyyah
i.        Fadhailish Shalah
j.        Kitabul Istimbath
k.      Risalah Ar-Radd ‘ala Ar-Rafidhah
l.        Majmu’atul Hadits dan sebagai besarnya telah tercetak dalam kumpulan karya-karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab pada tahun 1398 H di Riyadh di bawah pengawasan jami’ah Al Imam Muhammad bin Su’ud.
Muhammad bin Abdul Wahab wafat pada hari jum’at di akhir bulan Dzulqa’dah tahun 1206 pada umur 71 tahun setelah melakukan jihad yang panjang, berdakwah menyeru kebaikan, mengadakan perbaikan, menyebarkan ilmu dan pengajaran. Kemudian Muhammad bin Abdul Wahab dimakamkan di pekuburan Dir’iyyah.[3]

2.      Sejarah Lahirnya Gerakan Wahabi
Pemerintah Turki Raya pada saat itu mempunyai daerah kekuasaan yang cukup luas. Pemerintahannya berpusat di Istambul (Turki) yang demikian juga dari daerah jajahannya.
Kekacauan di dalam negeri maupun kelemahan di fihak kahalifah dan para sultannya Yng menyebabkan kekuasaan dan pengendalian khalifah maupun sultan-sultannya untuk daerah yang jauh mulai melemah. Disamping itu adanya anbisi dari amri-amri di negeri Arab untuk melepaskan diri dari kekuasaan pemerintahan pusat yang berkedudukan di Turki. Ditambah lagi dengan hasutan dari bangsaBarat, terutama imperalisme tua, Inggris dan Perancis yang menghasut bangsa Arab dan umat islam supaya berjuang merebut kemerdekaan dari Turki, hal mana sebenarnya hanya siasat untuk memudahkan kaum imperalis menanamkan pengaruhnya dimkawasan itu, kemudia mencengkramkan kuku penjajahanya dalam segala lpangan, seperti polotik, ekonomi, kebudayaan dan aqidah.
Kemerosotan dari sektor agama, teritama yang meyangkut aqidah sudah demikian memuncak. Ketaudidan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. Telah diselubungi khurafat dab bud’ah. Al-qur’an da hadits ditiggalka oleh segolonga besar kaum muslimin. Mereka menghias diri dengan azimat, penangkal peyakit, tasbih. Kebudayaan jahiliyah dahulu seperti memohon keselamatan pada para syeikh, para wali atau kepada kuburan orang-orag keramat, mereka memuja orag yang berada dalam kuburan itu senagai manusia suci dan perantara kepada Allah karena menganggap dia begitu jauh bagi manusia biasa untuk pengabdian langsung.  [4]
Setiap negara islam yag dikunjunginya, ia melihat berbagai macam tradisi, kepercayaan dan adat-istiadat yang dilakukan oleh masyarakat dalam bentuk ritual keagamaan. Ia juga menyaksikan betapa besarnya ahli-ahli tarekat dimasa hidupnya hingga kuburan-kuburan syaikh tarekat yang bertebaran setiap kota, bahkan kampung-kampun, ramai dikunjungi oleh orang-orang yang ingin meminta berbagai macam pertolongan.
Karena pengaruh tarekat ini, permohonan dan do’a tidak lagi langsung ditujikan kepada tuhan, tetapi melalui syafaat para syaikh atau wali tarekat yang dipandang sebagai orang yang dapat mendekati tuhan untuk memperoleh rahmat-Nya. Menurut kenyakinan orang yang berziarah ke kuburan para syaikh dan wali tarekat, tihan tidak dapat didekatki kecuali melalui perantara. Bagi mereka tuhan menyerupai raja dunia zalim yang untuk memperoleh belas kasian-Nya hsarus didekati melalui orang-orang besar yang ada di sekitarnya.[5]
Pemikiran yang dicetus Muhammad Abdul Wahab untuk memperbaiki kedudukan umat islam timbul bukan sebagai reaksi terhadap suatu politik seperti yang terdapat di kerajaan Usmani dan kerajaan Mughal, tetapi sebagai reaksi terhadap faham tauhid yang terdapat dikalangan umat islam di waktu itu. Kemurnian faham tauhid mereka telah dirusak oleh ajaran-ajaran tarekat yang semenjak abad 13 memang tersebar luas di dunia islam.
Di setiap negara yang dikunjungi Muhammad bin Abdul Wahab melihat kuburan-kuburan syekh tarekat bertebaran. Tiap kota, bahkan juga kampung-kampung mempunyai kuburan syekh atau wali masing-masing. Kuburan itu umat islam islam pergi naik haji dan meminta tolong dari syekh atau wali yang dikuburkan didalammya, untuk menyelesaikan problema hidup mereka sehari-hari. Ada yang meminta supaya diberi anak, ada yang meminta pula diberi jodoh, ada yang meminta supaya diberi kesembuhan dari penyakit yang dideritanya dan ada pula yang meminta  supaya diberi kekayaan. Demikianlah bermacam-macam permohonan yang diajukan kepada syekh atau wali yang yang diistirahatkan dalam kubur-kuburan itu. Syekh atau wali yang telah meninggal dunia itu dipandang senagai orang berkuasa untuk menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi manusia di alam ini.[6]
Karena pengauh tarekat ini, pemohonan dan do’a tidak langsung dipanjatkan kepada Allah, tetapi melalui syafa;at syekh atau wali taarekat, yang dipandang sebagai orang yang dapat mendekati Allah dan dapat memperoleh rahmatNya. Menurut kenyakinan orang-orang yang berjiarah ke kuburan syekh dan wali tarekat, mereka berkenyakinan bahwa tuhan tidak dapat didekati kecuali melalui perantara. Maka, bagi mereka, sebagai kata Ahmad Amin, tuhan menyerupai raja dunia zalim yang untuk memperoleh  belas kasihannya harus didekati melalaui orang-orang besar dan berkuasa yang ada disekitarnya.
Tetapi sebagai dilihat oleh Muhammad Abdul Wahab kemurniaan tauhid dirusak bukan hanya oleh para pujaan pada syekh dan wali. Faham animisme masih mempengaruhi kenyakinan umat islam. Di satu tempat ia melihat orang berziarah kesebatang pohon kurma, karena pohon itu dinyakini mempunyai kekuatan gaib. Di tempat lainn ia melihat batu besar pula yang dipuja. Kaum muslimin pergi ketempat-tempat serupa itu untuk meminta pertolongan dalam mengatasi persolaan-persoalan hidup mereka. Tuha, yang kepada-Nya-lah seharusnya dipanjatkan do’a dan permohonan, telah dilupakan.
Kenyakinan serupa ini, menurut faham Muhammad bin Bdul wahab merupakan syirik tau politeisme dan syirik adalah dosa terbesar dalam islam, dosa tak dapat diampuni Tuhan. [7]
3.      Ajaran Muhammad bin Abdul Wahab
Tauhid memang merupakan ajaran yang paling dasar dalam islam, oleh karena itu tidak mengherankan kalu Muhammad Abdul Wahab memusatkan perhatiannya pada soal ini. Ia berpendapat:
a.       Yang boleh dan harus disembah hanyalah tuhan dan orang yang menyebah selain tuhan telah menjadi musyrik dan boleh dibunuh.
b.      Kebanyakan orang islam tidak lagi menganut faham tauhid yang sebenarnya karena mereka meminta tolong bukan lagi dari tuhan tetapi dari syekh atau wali dan dari kekuatan gaib. Orang islam demikian juga telah menjadi musyrik
c.       Menyebut nama nabi, syekh atau malekat sebagai pengantara dalam do’a juga merupakan dalam syirik
d.      Meminta syafa’at selain dari kepada tuhan adalah syirik
e.       Bernazar kepada selain tuhan juga syirk
f.       Memeroleh pengetahuan selain dari Al-qur’an, hadits dan qias (analogi) merupakan kekufuran
g.      Tidak percaya kepada kad adan kadar tuhan juga merupakan kekufuran
h.      Demikian pula penafsiran al-qur’an dengan ta’wil (interprestasi bebas) adalah kufr.
Semua yang di atas di anggap bid’ah dan bid’ah adalah kesesatan. Untuk melepaskan umat islam dari kesesatan ini, ia berpendapat bahwa umat islam harus kembali kepada islam asli. Yang dimaksud dengan islam asli adalah islam sebagai yang dianut dan dipraktekkan di zaman nab, sahabat serta tabi’in, yaitu sampai abad ketiga Hijri.
Kepercayaan-kepercayaan dann praktek-prakter lain yang timbul dari zaman itu bukanlah ajaran asli dari islam dan harus ditinggalkan. Dengan demikian taklid dan patuh kepada ulama sesudah abad ketiga tidak dibenarkan. Pendapat dan penafsiran ulam tidaklah merupakan sumber ajaran-ajaran islam. Sumber yang diakui hanyalah Al-Qur’an dan hadits, dan untuk memahami ajaran-ajaran yang terkandung dalam keduanya sumber itu dipakai ijtihad. Baginya pintu ijtihad tidak ditutup.  Sama dengan syah Waliullah, Muhammad Abd Wahab adalah juga pengikut Ibn Taimiyah.
Muhammad bin Abdul Wahab bukanlah hanya seorang teoris, tetapi juga pemimpin yang dengan aktif berusaha mewujudkan pemikirannya, ia mendapat sokongan dari Muhammad Ibn Su’ud dan putranya Abd Al-Aziz di Nejd. Faham-faham Muhammad bin Abdul Wahab mulai tersiar dan golongannya bertambah kuat, sehingga tahun 1773 mereka dapat menduduki Riad.
Untuk mengembalikan kemurnian tauhid, kuburan-kiburan yang banyak dikunjungi dengan tujuan mencari syafa’at dan dengan demikian membawa kepada faham syirk, mereka usahakan menghapuskannya. Di tahun 1802, mereka serang karbala karena di kota ini terdapat kuburan Al-Husain, yng merupakan kiblat bagi golongan syi’ah. Beberapa tahun kemudian mereka menyerang Madinah. Kubbah yang ada di atas kuburan-kuburan di sana mereka hancurkan. Hiasan-hiasan yang ada dikuburan Nabi , dirusak-rusak dari Madinah mereka teruskan penyerangan ke Mekkah. Kiswa sutra yang menutup ka’bah juga dirusak-rusak semua itu adalah bid’ah.
Pemikiran-pemikiran muhammad bin Abdul Wahab yang mempunyai pengaruh pada perkembangan pemikiran pembaharuan di abad kesembilan adalah sebagai berikut.
a.       Hanya Al-Qur’an dan haditslah yang merupakan sumber asli dari ajaran-ajaran islam. Pendapat ulama tidak merupakan sumber
b.      Taklid kepada ulama tidak dibenarkan
c.       Pintu ijtihad terbuka dan tidak tertutup.[8]
Gerakan wahabi dimotori oleh para juru dakwah yang radikal dan ekstrim, mereka menebarkan kebencian permusuhan dan didukung oleh keuangan yang cukup besar. Mereka gemar menuduh golongan Islam yang tak sejalan dengan mereka dengan tuduhan kafir, syirik dan ahli bid’ah. Itulah ucapan yang selalu didengungkan di setiap kesempatan, mereka tak pernah mengakui jasa para ulama Islam manapun kecuali kelompok mereka sendiri. Di negeri kita ini mereka menaruh dendam dan kebencian mendalam kepada para Wali Songo yang menyebarkan dan meng-Islam-kan penduduk negeri ini.
Secara umum tujuan gerakan wahabi adalah mengikis habis segala  bentuk takhayul, bid’ah, khurafat dan bentuk-bentuk penyimpangan pemikiran dan praktik keagamaan umat islam yang dinilainya telah keluar dari ajaran islam yang sebenarnya. Ada beberapa yang didoktrinkan atau diajarkan dalam praktik gerakan ini, yaitu sebagai berikut :
1)      Semua objek peribadatan selain allah adalah palsu dan siapa saja yang melakukannya harus menerima hukuman mati atau dibunuh.
2)      Orang yang berusaha memperoleh kasih tuhannya dengan cara mengunjungi kuburan orang-orang suci bukanlah orang orang yang bertauhid, tetapi termasuk orang musyrik.
3)      Bertawassul kepada nabi dan orang saleh dalam berdoa kepada allah termasuk perbuatan syirik.

4.      Biografi Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum
Pendiri Wahabi adalah Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum wafat 211 H. Bukan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab wafat 1206 H.Secara sejarah wahabi telah muncul pada kurun kedua Hijriyah. Pada waktu itu ada sekte khawarij abadhy (khawarij yang berpemikiran  ekstrim) yang dipimpin oleh Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum. Abdul Wahhab bin Abdurrahman adalah anak dari Abdurrahman bin Rustum sang pendiri negara khawarij Rustumiyah, dan Abdul Wahab pun mewarisi kekuasaan bapaknya dan pemikirannya. Sekte ini muncul di daerah Afrika Utara. Sehingga para ulama setempat khusunya dan ulama yang lain menjuluki mereka dengan Wahabi atau Wahabiyah.gelar wahabi pada beliau ini tidak lepas dari keterkaitan beberapa pihak:
1.      para penjajah (orang kafir dari negara barat)
2.       kaum sufi (dianataranya melalui daulah utsmaniyah)
3.       kaum syi’ah / rafidhah (diantaranya melalui daulah fathimiyah)

Tuduhan buruk yang mereka lancarkan kepada dakwah beliau hanya didasari tiga faktor:
a.       Tuduhan itu berasal dari para tokoh agama yang memutarbalikkan kebenaran, yang hak dikatakan bathil dan sebaliknya, keyakinan mereka bahwa mendirikan bangunan dan masjid di atas kuburan, berdoa dan meminta bantuan kepada mayit dan semisalnya termasuk bagian dari ajaran Islam. Dan barangsiapa yang mengingkarinya dianggap membenci orang-orang shalih dan para wali.
b.      Mereka berasal dari kalangan ilmuwan namun tidak mengetahui secara benar tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan dakwahnya, bahkan mereka hanya mendengar tentang beliau dari pihak yang sentimen dan tidak senang Islam kembali jaya, sehingga mereka mencela beliau dan dakwahnya sehingga
memberinya sebutan wahabi.
c.       Ada sebagian dari mereka takut kehilangan posisi dan popularitas merekadakwah tauhid masuk wilayah mereka, yang akhirnya menumbangkan proyek raksasa yang mereka bangun siang dan malam.

5.      Pengarauh Gerakan Wahabi di Indoesia
Jejak gerakan Wahabi (Salafi) di Indonesia sebenarnya sudah ada pada abad ke 18 dengan corak ragam yang berbeda-beda dalam cara dan bentuknya sesuai dengan perbedaan kemampuan tokoh-tokohnya serta lingkungan dimana mereka berada, namun demikian gerakan-gerakan tersebut menuju satu sasaran yang sama dan berjuang dibawah satu semboyan yaitu kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah serta kembali ke jalan kaum Salaf. Karena itu, sebagian orang menamakan gerakan-gerakan tersebut dengan nama gerakan Salafiah.
Pada tahun 1905, penyebaran ajaran Wahabi diperkuat oleh datangnya Ahmad Surkati ,ulama Wahabi keturunan Arab-Sudan. Melihat perlawanan yang cukup keras dari mayoritas penganut Ahlussunnah Wal Jamaah, terlebih setelah berdirinya Nahdlatul Ulama pada 1926 yang diprakarsai Hasyim Asy’ari, penyebaran ajaran Wahabiyah lebih condong dilakukan melalui jalur pendidikan, dengan mendirikan sekolah-sekolah semi modern.[9]
pengaruh gerakan pemurnian yang dilakukan oleh kaum Wahabi terhadap umat Islam, sehingga mendapatkan reaksi para ulama sunni di Indonesia dengan maksud melindungi ajaran Islam tradisional yang telah menjadi suatu dasar dalam menjalankan ibadah, dengan mendirikan suatu organisasi kemasyarakatan (Ormas) di Indonesia pada tahun 1926 yang diberi nama NU sebagai wadah mempertahankan ajaran keagamaan tersebut. Dengan demikian Peneliti memilih judul “Pengaruh Gerakan Wahabi terhadap Berdirinya Organisasi Kemasyarakatan Nahdlatul Ulama (NU) Tahun 1926”.


6.      Dampak Dari Gerakan Wahabi

Awalnya, banyak kalangan, gerakan ini dianggap sebagai pelopor kebangkitan pemikiran di dunia Islam, antara lain gerakan Mahdiyah, Sanusiyah, Pan Islamisme-nya Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh di Mesir dan gerakan lainnya di benua India. Namun para penerusnya kelihatan lebih mengkhususkan diri kepada bentuk penghancuran bid'ah-bid'ah yang ada di tengah umat Islam. Bahkan hal-hal yang masih dianggap khilaf, termasuk yang dianggap seolah sudah bid'ah yang harus diperangi. Mungkin memang sebagian umat Islam ada yang merasakan arogansi dari kalangan pendukung dakwah Wahabiyah ini.
Gerakan Wahabi di Indonesia dicurigai membawa misi untuk menghancurkan dan menguasai, baik teritori maupun ekonomi. Di Indonesia tak hanya tanahnya yang subur, berbagai ideologi juga tumbuh subur, termasuk ideologi Wahabi. Apalagi gerakan Wahabi masuk dengan pola yang terorganisir rapi. Dana mereka juga cukup banyak. Simpati dari para pemilik dana itu mengalir sangat pesat dari Timur Tengah (Saudi).
Selain itu, menurut arsyadal (2012) Misi dari gerakan wahabi sebenarnya yaitu memecah umat islam. Dalam sepak terjangnya, wahabi berkilah dengan segala cara. Hadits dimanipulasi, kitab-kitab ahlus sunnah banyak yang dirubah, semua itu sebenarnya tak lain lagi hanya untuk menyokong gerakan mereka. Namun kami selalu yakin bahwa akan selalu ada generasi ahlus sunnah wal jama'ah yang akan mampu mengoyak dan membongkar kedok mereka, menerobos tembok-tembok muslihat mereka dengan hujjah yang tak terbantahkan.
Orang yang taqlid kepada madzhab di hukumi kafir. Orang ziarah kubur dibilang kafir. Tawassul syirik. Istighotsah juga syirik. Ini kafir dan itu kafir. Intinya, yang tidak sefaham dengan wahabi, dibilang kafir dan halal darahnya. Bahkan, dalam rangka me-naik daun-kan gerakannya, mereka tak segan-segan mengatakan bahwa sayyidah hawa, ibu seluruh manusia adalah musyrik. Mereka juga mengatakan bahwa sahabat nabi, ibnu abbas R.A adalah sesat.[10]


BAB III
PEUTUP
1.      Kesimpulan
Muhammad bin Abdul Wahab merupakan pendiri gerakan wahabi di Arab, nama lengkapnya adalah Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman At Tamimimi An-Najdi. Beliau lahir pada tahun 1115-1206 H/1701-1793 M di kampung Uyainah (Najed). Muhammad bin Abdul Wahab wafat pada hari jum’at di akhir bulan Dzulqa’dah tahun 1206 pada umur 71 tahun.\
Lahirnya gerakan wahabi ini di sebabkan karena Kemerosotan dari sektor agama, terutama yang meyangkut aqidah sudah demikian memuncak. Ketauhidan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. Telah diselubungi khurafat dan bud’ah. Al-qur’an da hadits ditiggalka oleh segolonga besar kaum muslimin. Mereka menghias diri dengan azimat, penangkal peyakit, tasbih. Kebudayaan jahiliyah dahulu seperti memohon keselamatan pada para syeikh, para wali atau kepada kuburan orang-orag keramat, mereka memuja orang yang berada dalam kuburan itu sebagai manusia suci dan perantara kepada Allah karena menganggap dia begitu jauh bagi manusia biasa untuk pengabdian langsung.
Melihat semua ini, Muhammad bin Abdul Wahab membuat perubahan agar umat islam kemabli kejalan Allah dengan melakuka dakwah terhadap umat muslim dan ajaran bagi umat muslim yaitu:
1)      Yang boleh dan harus disembah hanyalah tuhan dan orang yang menyebah selain tuhan telah menjadi musyrik dan boleh dibunuh.
2)      Kebanyakan orang islam tidak lagi menganut faham tauhid yang sebenarnya karena mereka meminta tolong bukan lagi dari tuhan tetapi dari syekh atau wali dan dari kekuatan gaib. Orang islam demikian juga telah menjadi musyrik
3)      Menyebut nama nabi, syekh atau malekat sebagai pengantara dalam do’a juga merupakan dalam syirik
4)      Meminta syafa’at selain dari kepada tuhan adalah syirik
5)      Bernazar kepada selain tuhan juga syirk
6)      Memeroleh pengetahuan selain dari Al-qur’an, hadits dan qias (analogi) merupakan kekufuran
7)      Tidak percaya kepada kad adan kadar tuhan juga merupakan kekufuran
8)      Demikian pula penafsiran al-qur’an dengan ta’wil (interprestasi bebas) adalah kufr.
Alaiaran wahabi yag di Arab sangatlah berbeda dengan aliran wahabi di Afrika serta pelopor gerakannya juga berbeda sehingga terdapat perbedaan yang mencolok dari kedua gerakan wahabi ini. Gerakan wahabi di Afrika utara dalah Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum. Ajaran yang digunakan banyak yang melenceng serta tidak sama dengan gerakan wahabi yang di Afrika.






[1]Muhammad Sa’id Mursi, Tokoh-tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah, (Puataka Al Kautsar, Jakarta Timur:2007), hlm. 298
[2]Sularno, Gerakan Dakwah Wahabi di Arab Saudi, (Universitas Sebelas Maret, Surakarta:2011) hlm. 46
[3]Sularno, Gerakan Dakwah Wahabi di Arab Saudi,..hlm.53
[4]Drs.Zinal Abidin Syihab, Wahabi dan Reformasi Islam Internasional, (Puataka Dian, Jakarta:1986), hlm. 17-18
[5]Mansur Mangsing, Muhammad Ibn Abd Al-Wahab dan Gerakan Wahabi, (STAIN Datokarama, Palu:2008)hlm.322
[6]Mansur Mangsing, Muhammad Ibn Abd Al-Wahab dan Gerakan Wahabi...hlm.323
[7]Prof. Dr.Harun Nasution,Pembeharuan Dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, ( Bulan Bintang, Jakarta:1975) hlm. 23-24
[8]Prof. Dr.Harun Nasution,Pembeharuan Dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan,...hlm. 26
[9]Prof.Dr. Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, (PT RAJAGRAFINDO PERSADA, Jakarta:2005), hlm. 303
[10]Prof. DR.Ali Jum’ah, Bukan Bid’ah, ( Lentera Hati Tangerang,Jakarta:2012 ), hlm. 73


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Time, Priority and Focus

Berhenti dan Pulang