ISLAM DAN ORDE BARU
Oleh : Ilham Adriyusa
1.
Biografi
Jamaluddin Al-Afghani
Jamaluddin
Al-Afghani adalah seorang pemimpin pembaharuan dalam Islam yang tempat tinggal
dan aktivitasnya berpindah-pindah dari satu negara Islam ke negara Islam lain.[1]
Bahkan, tidak hanya di negara Islam, Al-Afghani pernah berpolitik ke beberapa
negara di Eropa yakni England dan Prancis.[2]
Pengaruh yang terbesar ditinggalkannya di Mesir sehingga setiap buku mengenai
Al-Afghani measukkanaya pada pembahasan pembaharu di wilayah Mesir.
Jamaludin
Al-Afghani dilahirkan di wilayah Kabul, Afghanistan pada tahun 1838.[3]
Di Kabul ia mempelajari segala cabang ilmu keislaman di samping filsafat dan
ilmu eksakta hingga umur 18 tahun. Kemudian ia pergi ke India dan tinggal di
sana selama setahun sebelum menunaikan ibadah haji tahun 1857.[4]
Ketika baru berumur 22 tahun Al-Afghani telah menjadi pembantu bagi
pemerintahan Dost Muhammad Khan di Afghanistan. Di tahun 1864 ia menjadi
penasehat Sher Ali Khan. Beberapa tahun kemudian ia diangkat oleh Muhammad
A’zam Khan menjadi Perdana Menteri. Pada saat itu Inggris mulai mencampuri soal
politik di Afghanistan, pada saat itu Al-Alghani lebih memilih pihak yang
melawan golongan yang disokong Inggris. Pihak pertama kalah dan Al-Afghani
merasa lebih aman meninggalkan tanah tempat kelahirannya pada tahun 1869 dan
pergi ke India.[5]
Setelah singgah
di India, kemudian Al-Afghani berpindah ke Mesir yang kemudian menetap di sana.
Al-Afghani memilki pengaruh besar
terhadap Mesir. Ia merupakan orang yang pertama yang menanamkan modernisasi
Islam di Mesir.[6]
Bahkan bukan hanya di Mesir, menurut L. Stoddard, Al-Afghanilah orang pertama
yang menyadari sepenuhnya pengaruh barat dan bahayanya. Oleh sebab itu ia
mengabdikan diri untuk mengingatkan dunia Islam akan hal itu dan melakukan
usaha-usaha yang teliti serta umat Islam menurut Al-Aghani harus meninggalkan
perselisihan-perselisihan dan ia juga berusaha membangkitkan semangat lokal dan
nasional negeri-negeri Islam. Karena itu, Al-Afghani dikenal sebagai bapak
nasionalisme dalam Islam.[7]
Di Mesir
Al-Afghani awalnya memusatkan perhatiannya pada bidang Ilmiah dan sastra Arab.
Rumahnya menjadi tempat pertemuan dengan murid dan pengikutnya.[8]
Menurut Muhammad Salam Madkur, para peserta terdiri atas orang-orang terkemuka
dalam bidang pengadilan, dosen-dosen, mahasiswa Al-Azhar dan pegawai-pegawai
pemerintah. Di antara murid-murid Al-Afghani itu ada yang kemudian menjadi
pemimpin kenamaan di Mesir seperti muhammad Abduh dan Sa’ad Zaglul, pemimpin
kemerdekaan Mesir.[9]
Pada tahun 1892,
ia pindah ke Istanbul, Turki atas undangan Sultan Abdul Hamid II. Akan tetapi
semangat demokrasi Al-Afghani tentang pemerintahan, sehingga ia tidak dapat
berbuat banyak di Istanbul.[10]
Ia tidak diberi kebebasan oleh sultan yang melarangnya keluar dari Istanbul
hingga pada tahun 1897 wafat di sana.
2.
Pemikiran
Jamaluddin Al-Afghani
Al-Afghani dan
setiap gagasan-gasannya memilki tujuan yang ingin dicapai yaitu menggerakkan
perlawanan terhadap kekuatan Eropa. Al-Afghani menginginkan pemulihan zaman
keislaman Islam masa silam.[11]
Pemikiran pembaharuannya berdasar atas keyakinan bahwa Islam adalah yang susuai
untuk semua bangsa, semua zaman, dan semua keadaan.[12]
a) Agama
Islam
Menurut
Al-Afghani bahwa agama pada umumnya memberikan kepada akal manusia tiga
kepercayaan dan tiga pekerti yang merupakan tiang bagi berdirinya umat dan
menegakkan pergaulan hidup. Kepercayaan pertama, adalah bahwa manusia merupakan
pemilik dunia dan ia adalah makhluk yang paling mulia. Kedua, bahwa uamat Islam
adalah umat yang paling mulia. Ketiga, adalah bahwa manusia berada di dunia ini
untuk memperoleh kesempurnaan yang menyiapkannya pada alam yang lebih tinggi
dan lebih luas daripada alam duniawi ini.[13]
Menurut
Al-Afghani Islam lebih baik dari Agama yang lain karena Islam adalah agama yang
memimpin akal dengan tauhid, Islam mengokohkan manusia denagan kesmpurnaan akal
dan jiwanya, Islam merupakan satu-satunya agama yang mencegah orang mempercayai
sesuatu tanpa dalil dan mencela orang yang hanya mengikuti prasangka saja. Dan
Islam mewajibkan uamatnya untuk mengajar bangsa-bangsa lain dan menerangi akal
merekadengan ilmu pengetahuan.[14]
Al-Afghani beranggapan bahwa Islam merupakan satu-satunya agama yang sesuai
untuk semua zaman, bangsa, dan kondisi. Penyebab kemunduran dunia Islam adalah
masyarakat Islam itu sendiri yang tidak menjalankan Islam dengan
sebenar-benarnya, justru masyarakat Islam meninggalkan ajaran-ajaran Islam. hal
inilah yang dianggap Al-Afghani merupakan penyakit yang membuat dunia Islam
menjadi lemah dan mengalami kemunduran.
b) Kemunduran
Umat
Pandangan pokok
Al-Afghani adalah agar umat islam berhasil mengembalikan kejayaannya yang lalu
sekaligus menghadapi abad modern, umat harus kembali menjadi pemeluk Islam yang
lebih murni. Karena menurut Afghani pemahaman umat pada agamanya sangat
mempengaruhi kehidupan sehingga mudah terpedaya dan kalah dengan bangsa-bangsa
non-muslim.[15]
Penyebab kemunduran Umat Islam menurut Al-Afghani seperti yang dijelaskan
diatas yaitu masyarakat Islam itu sendiri yang tidak menjalankan Islam dengan
sebenar-benarnya, justru masyarakat Islam meninggalkan ajaran-ajaran Islam. hal
inilah yang dianggap Al-Afghani merupakan penyakit yang membuat dunia Islam
menjadi lemah dan mengalami kemunduran.
Al-Afghani juga
mangatakan bahwa kemunduran umat Islam disebabkan beberapa faktor yaitu umat
Islam bersikap pasrah, kuat pada taklid, telah ininggalkan akhlak yang mulia,
acuh terhadap ilmu pengetahuan, kurangnya usaha dalam mencerdaskan umat,
lemahnya ukhuwah atau persaudaraan Islam,[16]
dan sebab-sebab lain yang menurutnya bahwa hal-hal inilah yang membuat umat
Islam mengalami kemunduran dan kemerosotan.
c) Pemikiran
Tentang Negara dan Pemerintahan
Menurut
Al-Afghani Corak pemerintahan otokrasi harus diubah dengan corak pemerintahan
demokrasi. Kepala negara harus mengadakan syura dengan pemimpin-pemimpin
masyarakat yang banyak mempunyai pengalaman. Islam dalam pandangan Al-Afghani
menghendaki pemerintahan republik yang di dalamnya terdapat kebebasan
mengeluarkan pendapat dan kewajiban kepala negara tunduk kepada undang-undang
dasar. Di
dalam pemerintahan yang absulot dan otokratis tidak ada kebebasan berpendapat,
kebebasan hanya ada pada raja/kepala gegara untuk bertindak yan
tidak diatur oleh Undang-undang. Karena itu Al-Afghani menghendaki agar corak
pemerintahan absulot diganti dengan dengan corak pemerintahan demokrasi.[17]
d) Pan-Islamisme
Al-Afghani
sangat berobsesi menyatukan seluruh kaum muslimin. Di atas segala-galanya,
persatuan umat Islam, mesti diwujudkan kembali. Dengan bersatu dan mengadakan
kerja sama yang erat, umat Islam dapat
kembali memperoleh kemajuan. Persatuan dan kerja sama merupakan sendi yang amat
penting dalam Islam. Pan-Islamisme bukan berarti meleburnya kerajaan-kerajaan
Islam menjadi satu, melainkan mereka harus mempunyai satu pandangan bersatu dan
bekerja sama. Persatuan Islam hanya dapat dicapai bila mereka berada dalam
kesatuan pandangan dan kembali kepada ajaran Islam yang murni, yaitu Al-Qur’an
dan Sunnah Rasul.[18]
Pan
islamisme menurut Jamaluddin adalah suatu pembaharuan dan kebangkitan dari
dunia islam sendiri sedangkan istilah awalnya yang berasal dari dunia barat .
Disini dapat disimpulkan bahwa pan islamisme adalah suatu pembaharuan atau
gagasan untuk menyatukan dunia islam semangat para muslim atau perjanjian
antara pemerintah-pemerintah islam yang dipimpin oleh pemimpin paling kuat dan
besar. Jamaluddin sendiri lebih sering menginsyaratkannya dengan kata persatuan
dan kebangkitan. Mari kita sepakati saja dalam pembahasan kali ini, bahwa
Pan-Islamisme adalah satu gagasan atau bisa disebut dengan suatu semangat untuk
meyatukan para kaum muslimin atau perjanjian persahabatan di antara
pemerintahan-pemerintahan Islam yang dipimpin oleh pemerintahan yang paling
besar dan paling kuat.[19]
[1] Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, (Jakarta: PT
Bulan Bintang, 1975), hal. 43.
[2] Ira. M. Lapidus, Sejarah Umat Islam, (Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, 1999), hal. 109.
[3] Menurut M Ira Lapidus dalam
bukunya Sejarah Umat Islam, Bahwa Jamaluddin Al-Afghani merupakan seorang Syiah
Iran yang kemudian mengklaim dirinya sebagai warga Afghanistan dalam rangka
meyakinkan kesesuaiannya dengan muslim sunni.
[4] Didin Saefuddin, Pemikiran Medern dan Postmodern Islam ,
(Jakarta: PT Grasindo, 2003), hal . 8.
[5] Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, (Jakarta: PT
Bulan Bintang, 1975),hal . 43.
[6] Philip K. Hitti, History Of The Arabs, (Jakarta: PT
Serambi Ilmu Semesta, 2014), hal. 965.
[7] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta:
Rajawali Pers, 2013), hal. 185.
[8] Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, (Jakarta: PT
Bulan Bintang, 1975) ,hal. 43.
[9] Ibid., hal. 44.
[10] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta:
Rajawali Pers, 2013), hal. 185
[11] M. Lapidus, Sejarah Umat Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1999), hal. 110.
[12] Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, (Jakarta: PT
Bulan Bintang, 1975) ,hal. 46.
[13] Didin Saefuddin, Pemikiran Medern dan Postmodern Islam ,
(Jakarta: PT Grasindo, 2003), hal . 11.
[14] Ibid., hal. 11-12.
[15] Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, (Jakarta: PT
Bulan Bintang, 1975) , hal. 48.
[16] Harun Nasution,
Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, jilid II, (Jakarta: Pressa,
1986), hal. 109.
[17] Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, (Jakarta: PT
Bulan Bintang, 1975) ,hal. 48.
[18] Dikutip didin dalam buku Yusran
Asmuni, pengantar Studi Pemikiran dan
gerakan pembaharuan Dalam Islam,
(Jakarta: Rajawali Pers, 1998), hal. 77.
[19] Mukti Ali.1995, Alam pikiran
islam modern di timur tengah,
(Jakarta: Djambatan), Hal. 261.
Komentar
Posting Komentar