KONSEP ISLAM KIRI HASAN HANAFI


                        KONSEP ISLAM KIRI HASAN HANAFI

Oleh : Asmaul Husna

Hasan Hanafi adalah cendikiawan muslim yang berkeyakinan bahwa tradisi agama mempunyai pijakan ideologis yang kuat untuk menggerakkan perubahan sosial. Pengelaborasian tradisi lama dengan abstraksi dari basis material massa dan kebudayaan dari ideologi-ideologi modern merupakan pertautan menarik diantara bangunan epistemologi dari sebuah paradigma. Tradisi lama akan dianggap efekti dalam menggerakkan massa, karena ia berakar dan melembaga sebagai tradisi dalam masyarakat, sedangkan abstraksi ideologi modern dapat memberikan spirit untuk mengarahkan nuansa progresivitas gerakan massa.
Dilahirkan di Kaherah, Mesir, pada 14 Februari 1934, Hanafi sewaktu kecil adalah seperti masyarakat Mesir yang lainnya, iaitu memperoleh pendidikan agama yang cukup. Pendidikan rendah dan tingginya ia tempuh di kota kelahirannya. Sedangkan gelar doktorat ia raih pada 1966 di Universiti Sorbonne, Paris, Perancis dengan disertasi berjudul Essai Sur la Methode d’exegese (Essai Tentang Metode Penafsiran
Istilah kiri islam yang dimotori oleh hasan hanafi merupakan upaya untuk menggali pendewasaan makna revolusioner dari islam, sebagai konsekuensi logis dari keberpihakannya kepada umat yang lemah dan tertindas. Makna kiri dalam pengertian hasan hanafi ini merupakan sebuah gerakan revolusi (moral-moral revolution govement) untuk memperjuangkan harkat dan martabat kaum tertindas, sehingga persamaan (egalitarian) dan keadilan umat manusia sejajar satu sama lain.
Muncul Hassan Hanafi dengan Kiri Islam-nya. Menurutnya, kiri mengangkat posisi kaum yang tertindas, kaum miskin, dan yang menderita. Dalam terminologi ilmu politik, kiri juga menempatkan kembali rasionalisme, naturalisme, liberalisme, dan demokrasi dalam khazanah intelektual Islam. Kiri dan kanan tidak ada dalam Islam itu sendiri, tetapi “ada” pada tataran sosial, politik, ekonomi, dan sejarah. Bagi Hassan Hanafi, mengenalkan terminologi kiri dan orang-orang kiri adalah penting bagi upaya menghapus seluruh sisa imperialisme. 
Kiri Islam merupakan respons Hassan Hanafi atas tantangan Barat, melanjutkan perjuangan Al-Afghani melawan kolonialisme. Menurutnya, penggunaan nama “kiri” sangat penting, karena dalam citra akademik, kiri adalah konotasi untuk melawan dan kritisisime. Namun, dalam dunia Islam, pengertian kiri sering kali disalahpahami. Kiri dikenal sebagai “kafir” dan “ateis”.
Secara tegas, Hassan Hanafi mencemooh pandangan tersebut. Baginya, sikap itu merupakan sisa-sisa penjajahan imperialisme kultural yang justru memunculkan bias wacana yang mencegah massa Muslim mendukung ide-ide radikal menyoal penindasan. 
Pembongkaran atas situasi “mapan” dari sebuah kekuasaan inilah yang menjadi semangat ilmiah istilah “kiri”, terutama pembongkaran atas berbagai kekuasaan yang berlindung di balik jubah ideologi-ideologi, atau bahkan berlindung di balik ajaran-ajaran agama. Kiri Islam-nya Hassan Hanafi merupakan sintesis dari sistem ideologi kapitalisme yang gagal mengangkat martabat manusia. Hal ini dilakukannya agar Islam yang sejak awal merupakan sistem kehidupan yang membebaskan kaum tertindas tetap dipertahankan dan menjadi suatu sistem ideologi yang populistik—ideologi kaum tertindas.
Bila kita cermati lebih lanjut, kiri islam-nya hasan hanafi merupakan sintesa dari sistem ideologi kapitalisme yang gagal mengangkat martabat manusia. Latar belakang kemunculan kiri islam hasan hanafi juga tidak lepas dari adanya persaingan kedua ideologi kapitalisme dan sosialisme.
 Hasan hanafi relatif mampu melakukan modifikasi konsep sosialisme yang materialistik dan determinisme historik.Ini dilakukan supaya islam yang sejak awalnya merupakan sistem kehidupan yang membebaskan kaum tertindas tetap dipertahankan dan menjadi suatu sistem ideologi yang populistik (ideologi kaum tertindas) yang selama ini selalu diklaim sosialisme. Hal inilah yang menjadi kesimpulan dan pilihan hasan hanafi yang menamakan gerakannya dengan kiri islam yang selalu mengedepankan progresifitas religius dan pranata-pranata lainnya yang bersifat spiritualitas dan historis.
Kiri islam merupakan sintesis dari eksplorasi dan tafsir ulang yang cerdas terhadap khasanah keilmuan islam dan juga dari analisis konsep Marxian atas kondisi obyektif serta tradisi yang mengakar pada rakyat. Kiri bertumpu pada tataran tiga metodologi, sejarah Islam, fenomenologi dan analisis sosial marxian. Oksidentalisme: suatu sikap atas tradisi Barat.
Hasan Hanafi dengan kiri islamnya sangat menentang peradaban barat, khususnya imperialisme ekonomi dan kebudayaan. Hasan hanafi memperkuat umat islam dengan memperkokoh tradisinya sendiri. Karena itu, tugas kiri islam adalah pertama, melokalisasi barat pada batas-batas alamiahnya dan menepis mitos dunia barat sebagai pusat peradaban dunia serta menepis ambisi kebudayaan barat untuk menjadi paradigma kemajuan bagi bangsa-bangsa lain. Kedua, mengembalikan peradaban barat pada batas-batas kebaratannya.
Asal-usulnya, kesesuaian dengan latar belakang sejarahnya, agar barat sadar bahwa terdapat banyak peradaban dan banyak jalan menuju jalan kemajuan. Ketiga, hasan hanafi menawarkan suatu ilmu untuk menjadikan barat sebagai objek kajian. Oksidentalisme bagi hasan hanafi merupakan suatu upaya menandingi orientalisme dan meruntuhkannya hingga ke akar-akarnya. Untuk mengembalikan citra islam, ia memberikan jalan dengan melakukan reformasi agama, kebangkitan rasionalisme dan pencerahan.
Inspirasi kiri islam timbul karena melihat keberhasilan ropolusi islam di Iran, dimana rakyatnya tegak kokoh melawan tekanan militer dan menumbangkan rejim syah atas nama islam untuk menumpas otoriter. Maka dapatlah dilihat bahwa kiri islam adalah benteng pelindung bagi islam, yang akan mengembangkan reformasi agama.
Kiri islam berakar pada gerakan – gerakan islam kontemporer: sanusiyah, omar mokhtar di libiya, mahdiisme di sudan, ikatan ulama aljazair, yang menggabungkan repolusi nyata menentang imprialisme dan repolusi pemikiran untuk mengentaskan keterbelakangan ummat.
Pemikiran Hasan Hanafi ini sangat perlu untuk dicermati dalam rangka membangun kembali turas klasik yang telah pernah mengantarkan umat ke zaman keemasannya.Hasan Hanafi, pemikir muslim modernis dari Mesir, merupakan antara tokoh yang akrab dengan simbol-simbol pembaharuan dan revolusioner. Idea-idea seperti Islam kiri, oksidentalisme adalah yang sering dikatkan padanya. Tema-tema tersebut dikemasnya dalam rangkaian projek besar; pembaharuan pemikiran Islam, dan usaha untuk membangkitkan umat dari kemunduran dan kolonialisme moden.
Melalui gagasan kiri Islam, Hasan Hanafi ingin menginginkan adanya pertautan antara agama dan revolusi. Sehingga agama bisa dijadikan alat untuk membebaskan manusia dari penindasan yang dilakukan penguasa. Agama harus mampu menggerakan semangat rakyat untuk melakukan revolusi demi terciptanya masyarakat tanpa kelas.
Sedangkan konsep oksidentalisme, menurut gagassan Hasan Hanafi, berusaha untuk menyeimbangkan pola pikir antara Barat dengan Timur. Jika selama ini Barat selalu menganggap Timur sebagai Obyek, maka oksidentalisme Hanafi, mencoba membalik pemikiran ini dengan menjadikan Barat sebagai obyek yang diteliti oleh Timur.
Jika kedua konsep ini digabungkan maka masyarakat Islam mampu hidup rukun tanpa klas, dan peradaban dunia milik semua manusia. Tidak ada lagi dikotomi penindas dan tertindas, barat dan timur, kaya dan miskin, karena semuanya sama baik dari segi material maupun dari segi peradaban
Identitas Epistem Kiri Islam.
Seperti manifestasi awal munculnya jurnal Kiri Islam, Hassan Hanafi berupaya untuk merevitalisasi khazanah Islam klasik, yang menurutnya dalam sejarah pemikiran Islam, banyak ditemukan para intelektual Islam yang berdekatan dengan penguasa, sehingga memunculkan banyaknya ketumpulan dalam dinamika pemikiran Islam yang berakhir pada jauhnya umat Islam dari realitas sosialnya.
Untuk itu, Hassan Hanafi dalam hal Kiri Islam memosisikan epistemnya sendiri. Islam intelektual natural seperti yang dikemukakan Ibnu Rusyd dan juga mazhab hukum Islam Maliki yang bersandar pada kesejahteraan adalah kiri. Cara berpikir Hassan hanafi ini sangat kental dengan rasionalisme, tapi secara tegas Hassan Hanafi menolak rasionalisme yang tumbuh di dunia Barat. 
Ia menjelaskan, rasionalisme mencurahkan perhatiannya pada bentuk tanpa isi. Akibatnya, muncul eksperimentalisme Eropa yang menentang rasionalisme tersebut, yang lebih menyukai isi daripada bentuk, materi daripada rasio. Kedua, rasionalisme berubah dari kritik fundamental ke penolakan prinsip, kemudian ke penghancuran dirinya secara terus-menerus. Rasionalisme menjadi penghancur dirinya sendiri.
Ketiga, rasionalisme jatuh ke dalam transformasi yang rahasia dan iman ke tingkat rasio dan bukti. Kemudian, asosiasi ideal muncul atas nama gereja, dan keabsolutan atas nama Tuhan. Descartes dan Kant membawa Injil baru dengan agama Kristen yang rasional, ideal, dan etis. Keempat, rasionalisme memusatkan perhatiannya pada dirinya sendiri, tubuh manusia Eropa. Ia mengikrarkan humanisme yang terbatas. Maka rasionalisme ini menolak rasio bangsa-bangsa non-Eropa.
Kelima, rasionalisme Eropa belum menghasilkan jejak aktual apa pun. Ia hanya mengubah politik secara formal. Pada hakikatnya, bangsa-bangsa Eropa masih Romawi. Keenam, rasio berubah ke alam aktivitas bebas, kemudian ke dalam kemapanan sistem liberal yang mendukung sistem kapitalis, yang pada gilirannya mengarah pada monopoli dan ublisasi. Setelah proses ini, rasio menjadi hampa nilai.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Time, Priority and Focus

Berhenti dan Pulang