Resensi Kebenaran Yang Hilang
Resensi Buku
KEBENARAN
YANG HILANG
Oleh
: Desi Ulvia
Buku kebenaran yang hilang di tulis oleh
Farag fauda kelahiran tahun 1945, ia adalah seorang doktor dibidang ekonomi
pertanian. Ia juga pernah berafilasi dengan partai politik seperti Parta Wafd
dan partai Istiqlal. Tetapi, ia lebih dikenal sebagai pemikir, pengiat hak
asasi manusia, dan komentator sosial. Mestinya, ini semua bukan kegiatan yang
berbahaya. Namun pada tanggal 8 Juni 1992, Farag Fauda (juga sering di tulis
dengan Faraj Faudah/ Fuda, termasuk edisi terjemahan kedalam bahasa Indonesia
ini) di tembak mati dalam di Madinat al- Nasr, Kairo. Seorang anaknya dan
beberapa orang lain terluka parah dalam insiden yang sama. Ia di bunuh dua
penyerang bertopeng dari kelompok Jamiah Islamiah. Singkat cerita, ia dibunuh
karna karyanya sendiri.
Beberapa hari sebelum dibunuh, tanggal 3 Juni, sekelompok
Ulama dari Universitas Al-Azhar mengeluarkan pernyataan bahwa Fauda,
berdasarkan pikiran dan tulisannya, telah menghujat agama karenanya keluar dari
Islam. Ini berarti ia adalah musuh Islam dan halah darahnya. Di sini,
lebelisasi halal beratti boleh dibunuh. Sebelumnya kelompok ulama yang sama
menerbitkan daftar nama-nama orang yang memusuhi Islam dan Fauda berada pada
urutan pertama. Pada bulan Januari 1922, berlangsungnya debat hebat dalam
rangka pameran buku Kairo. da dua kubu yang berdebat. Yang satu terdiri dari
Fauda dan Muhammad Ahmad Khallafah (lahir 1961), dan kubu yang lain terdiri
dari Muhammad Al-Ghazali (1917-1996), Maimun Al-hudaibi dan Muhammad Al-Imara.
Konon, 30.000 orang menghadiri debat yang sempat di filmkan tetapi tidak pernah
di tayangkan ke publik. Dalam kontek polarisasi ideologis di Mesir ketika itu ,
kubu pertama adalah sekularisme dan kubu kedua adalah Islamisme. Yang di
perdebatkan adalah hubungan antar agama dan politik , negara dan agama,
penerapan syariat Islam dan institusi khilafah.
Masalah yang di perdebatkan di atas tentu saja bukan
masalah baru bagi Mesir. Pada gilirannya, Ulama pun memainkan perannya.
Al-Azhar tidak mengutuk pembunuh Fauda. Namun pengadilan menjatuhkan hukuman mati
kepada pembunuh Fauda pada tahun 1993 dan dieksekusi pada tahun 1994.
Buku Kebenaran Yang
Hilang adalah sebuah buku yang mengupas tentang bagaimana politik,
pemerintahan, kedaulatan pada masa khulafaur rasyidin, muawwiyah dan abbasiyah.
Buku Kebenaran Yang Hilang juga memberikan pemikiran kesejarahan baru serta
stimulasi-stimulasi untuk menguak kesejarahan yang di sembunyikan dari dunia.
Buku ini terdiri dari lima bab, memiliki 263 halaman dengan dua epilog.
Bab I : Kebenaran yang hilang
Dalam bab ini pembahasan berupa stimulasi-stimulasi dan
mengajak kita berfikir serta menerawang bagaimana kepemimpinan khulafaur
rasyidin pada masanya dan apa-apa yang terlupakan oleh kita. Bagaimana
meninggalnya keempat pemimpin ini dan bagaimana masa pemerintahannya. Pada bab
ini juga mengatakan bahwa Islam harus kita wujudkan dalam subsatansi dan
nilai-nilai bukan mempolitiasi.
Bab II : Pembacaan Baru terhadap Sejarah al-Khulafa’
al-Rasyidun
Dalam bab ini membahas tentang bagaimana bagaimana
kematian keempat khlaifah namun yang paling mencolok dan mencuri perhatian
adalah seorang khaliafah yang bernama Usman bin Affan. Berbeda halnya dengan
khalifah sebelumnya, meninggalnya Usman disebabkan oleh kaum muslimin. Usman
bin Affan dibunuh oleh kaum muslimin yang menentang pemerintahannya. Sebelum
terbunuhnya Usman, sekelompok kaum muslimin telah datang padanya dan
menyuruhnya untuk mengundurkan diri, namun Usman menolak akan hal itu. Bukan
hanya itu, setelah terbunuhnya Usman kaum muslimin membiarkan manyatnya selama
tiga hari bahkan ada seorang kaum muslimin meludahi mayatnya dan mematahkan
persendiannya serta melarang mayat Usman di semanyamkan di makam kaum muslimin
kemudian mayat Usman di makamkan di pemakaman Yahudi yang sekarang sudah
menjadi pemakaman kaum muslimin.
Dalam bab ini juga membahas tentang al-Khulafa’
al-Rasyidun yang berijtihad menetapkan hukum kepada seorang yang salah.
Ilustrasi pertama datangnya dari Umar. Yang pada masa pemerintahannya terjadi
suatu pencuriaan. Pencurian itu terjadi pada masa panceklik, dimana rakyat di
landa kelaparan. Pada peraturan yang lazimnya, ketika seseorang mencuri maka ia
akan di kenakan hukuman potongnya tergantung kadar atau seberapa banyak yang di
curi. Namun, pada masa itu Umar memutuskan tidak memotong tangan si pencuri
karena situasi dan kondisi pada masa itu yaitu kelaparan. Ini adalah satu bukti
dimana pemisahan antara agama dan pemerintahan (kata fauda dalam bukunya).
Bab III : Pembacaan Kesejarahan Baru terhadap Sejarah
Umayyah
Dalam bab ini menceritakan bagaimana pemerintahan pada
masa Umayyah. Kita menyaksikan fase yang berlainan sama sekli dengan fase
khulafaur rasyidin. ketika membahas masa Umayyah ekspansi Islam bertambah luas,
sampai-sampai negeri Islam telah membentang dari India ke Timur dan Andalusia
Barat. Kekuasaan, kewibawaan da keruntuhan negara, memang bertambah. Ini dikarenakan
tidak ada kaum muslimin yang membelot ke pihak musuh. Kecuali di masa
penghujungnya. Ada beberapa pemimpin yang melakukan larangan agama, seperti
berjudi, berzina dan bahkan homoseksual. Tak dapat dipungkiri juga beberapa
khalifah memiliki ratusan selir atau gundik.
Bab IV : Pembacaan Kesejarahan Baru terhadap Sejarah
Abbasiyah
Dalam bab ini diberikan beberapa ilustrasi tentang
seorang pemimpin pada masa itu yang melakukan penyimpangan-penyimpangan. Salah
satunya adalah al-Watsiq, seorang pemimpin yang sangat dholim memiliki 400
selir atau gundik dan juga menyenangi homoseksual (suka sesama jenis). Dalam
buku kebenaran yang hilang, penulis mengatakan bahwa al-Watsiq sangat menyukai
Muhaj, Muhaj adalah seorang pelayan kerajaan. Selain itu ada beberapa kejadian
lainnya yaitu dimana seorang pemimpin pada masa abbasiyah menggali semua
kuburan pemimpin pada masa Muawwiyah untuk di ambil isi kuburnya dan di bakar
lalu abunya di buang. Jika di temukan mayat yang utuh maka akan di lucuti
bajunya dan di cambuk. Ini adalah sebuah bentuk balas dendan atau
sejenisnya.Yang ingin di katakan oleh penulis adalah bahwasanya sistem
kekhalifahan jauh sudah pergi meninggalkan negara dan pemimpinnya . Semua
nilai-nilai Islam dalam negara sudah tidak ada lagi sehingga terjadinya
penyimpangan-penyimpangan yang sangat tidak di perkirakan dalm sebuah negara
kekhalifahan. Ini adalah kenyataan-kenyataan yang selama ini di tutupi dari
mata dunia. Dapat dikatakan juga inilah yang menyebabkan dunia Islam runtuh dan
terpuruk.
Buku Kebenaran yang hilang memberikan stimulasi demi
stimulasi untuk membuka cakrawala kita supaya kita paham apa yang selama ini di
tutupi oleh oknum-oknum yang memainkan perannya demi kepentingannya sendiri.
Islam di politisasi itulah yang terjadi sekarang ini. Islam menjadi topeng bagi
mereka yang bersembunyi di belakangnya. Memberikan selogan-selogan Islam dan
juga lebelisasi namun pada kenyataannyan jauh dari nilai-nilai Islam sendiri.
Keterbukaan dan transparasi akan sejarah itu sangat di perlukan demi sebuah
kebenaran di masa depan. Akhir kata pengresensi hanya berpesan bahwa bacalah
buku sebanyak mungkin, kritislah!. Sejarah adalah suatu tulisan yang mengandung
semua rasa, baik itu manis, asam, asin atau pahit sekalipun. Objektivitas
sejarah diperlukan demi kualitas sebuah sejarah itu sendiri.
Wallahu’alam
bishawab
Komentar
Posting Komentar