TAHA HUSEIN
TAHA HUSEIN
Oleh : Revo Silahandayani
A . Biografi Thaha
Husein
Thaha Husein lahir pada tanggal 14 november 1889 di
sebuah kota kecil bernama Maghargha dari keluarga petani, dan wafat
di Cairo, 28 Oktober 1973. Beliau merupakan Seorang saastrawan,
pemikir, dan pembaru di Mesir yang mengjukan seperangkat konsep dan gagasan untuk
membangun Mesir modern, baik dalam bidang budaya, politik, pendidikan, maupun
keagamaan. Ketika berumur 6 tahun ia diserang penyakit opthalmia yang
menyebabkan kebutaan untuk selamanya. Namun dengan bentuan saudara-saudaranya
ia dapat mengikuti pendidikan di sebuah kuttab, sekolah trdisional dengan
pelajaran pokoknya membaca dan menghafal Al-Qur’an. Belum sampai berusia 9
tahun, ia telah mampu menghafal seluruh ayat-ayat Al-Qur’an. Pada usia 13
tahun (tahun 1902) Thaha Husein melanjutkan studinya di al-Azhar.
Di al-Azhar ia mendapat bimbingan dari Syeikh Sayid
Ali al-Marsafi dalam sastra Arab, dan Muhammad Abduh serta Lutfi Sayyid dalam
pemikirn modern. Karena kurikulum al-Azhar sangat tradisional, maka Thaha
Husein tidak menyukai studi di Universitas ini. Setelah sepuluh tahun belajar
di al-Azhar dan menempuh ujian pada tahun 1912, tim penguji sepakat untuk tidak
meluluskanya.
Pada tahun 1908 Thaha Husein mendaftarkan diri
sebagai mahasisiwa Universitas Cairo. Di sinilah ia berkenalan dengan metode
barat Modern, setelah berkenalan dengan tokoh-tokoh (Orientalis) semisal
Profesor Carlo Nallino (1872-1934), orientalis bangsa Italia, pengajar sejarah
Sastra dan puisi Zaman Bani Umayyah, Profesor Santillana, pengajar sejarah
Filsafat Islami dan Khusus sejarah penterjemahan, Profesor Miloni pengajar
Mesir purba dan Prof. Littman pengajar tentang bahasa-bahasa Smit serta
perbandingannya dengan bahasa Arab.
Pada tanggal 5 mei 1914 Thaha Husein
memepertahankan disertasinya yang berjudul “Dhkira Abi al-‘Ala al-Ma’ari” di
hadapan guru besar Universitas Cairo dan berhasil dengan judisium Jayyid
jiddan (baik sekali). Pada tahun yang sama (1914) Thaha Husein di kirim ke
Perancis, tepatnya di universitas Sarbonne sebagai anggota misi pendidikan
Universitas Cairo. Ia belajar di bawah bimbingan para guru besar senior,
seperti Glatza, Block, Dicke, dan Seignobos dalam bidang sejarah, Lanson dalam
bidang Sastra Perancis, dan Durkheim dalam bidang Filsafat. Perkenalan
dengan sederetan sarjana yang berbeda disiplin ilmu itulah yang kelak akan
mewarnai intelektualitas Thaha Husein (terutama dalam penelitian) hingga
menghasilkan gagasan-gagasan yang sangat kontroversi pada zamannya. Merasa
mendapatkan kemajuan intelektualitas diri di Paris itu, Thaha Husein lantas
berucap: paris is the capital of the modern world even as Athen was the
capital of the ancient world, with difference that in knowledge, in philosophy,
in freedom and in civilization, paris has all the immence superiority over
Athen.
Di
samping itu, ia juga menerima pengetahuan tentang Al-Qur’an dari Casanova di
salah satu College. Selama studi di Perancis ia banyak di bantu oleh seorang
gadis Perancis bernama Suzanne Bresseau yang berperan selaku sekretaris dan
pembacanya dan yang kemudian menjaadi istrinya pada tanggal 9 Agustus
1917. Tiga tahun kemudian (1919) ia meraih gelar doctor (untuk yang jedua
kalinya) melalui desertasinya yang berjudul “Etude Analatique Et Critique De La
Philosophie Sosiale Ibnu Khaldun” dan memperoleh Judisium Cumlaude.
Sekembalinya
dari perancis (1921), Thaha Husein banyak melakukan aktivitas untuk membangun
peradaban Mesir, seperti yang terlihat dala tugas-tugas yang
diembannya. thaha Husein diangkat menjadi guru besar untuk sejarah Romawi
dan Yunani Kuno pada Universitas Cairo. Pada tahun 1928 thaha Husein
diangkat menjadi Dekan Fakultas Sastra. Pada tahun 1936 –
1938 ia diangkat menjadi Dekan pada Fakultas yang sama. Tahun
1944 Thaha husein berperan sebagai Penasehat Kementerian partai wafd,
kemudian diangkat menjadi Rektor pada Universitas Aleandria yang beru didirikan
dan pada bulan Januari 1950-1952 thaha Husein diangkat menjadi Menteri
Pendidikan. Keika menjabat itulah Thaha Husein dapat mewujudkan keinginanya
dalam memajukan penidikan di Mesir (seperti yang kan dikemukakan nanti). Ketika
raja membubarkan kabinet pada bulan Oktober 1944, Taha Husein turun dari
jabatan pemerintah karena dia termasuk anggota Partai Wafd yang setia. Tetapi
pada tahun 1949, ketika Partai Wafd menang lagi dalam pemilihan, Taha Husein
mencapai puncak kariernya sebagai menteri pendidikan sampai tahun 1953.
B.Gagasan
Sekularisasi Thaha Husain
Secara
harfiah kata “Sekularisasi” berasal dari kata Latin “Saeculum” yang berarti
masa, waktu atau generasi. Kata Saeculum sebenarnya merupakan salah dari kata
latin yang berarti dunia. Kata lainnya yaitu “Mondus.”
Saeculum menunjukkan waktu dan Mondus menunjukkan ruang. Saeculum
sendiri adalah lawan dari “Eternun” yang berarti abadi, yang digunakan untuk
menunjukkan alam yang kekal abadi, yaitu alam sesudah dunia ini. Dalam Bahasa
Inggris kata “Secular” merupakan kata sifat yang berarti duniawi. Perlu
diketahui sekuler yang bersifat keduniaan, artinya masalah dunia tetap
dijadikan masalah dunia dan masalah agama (akhirat) tetap dijadikan masalah
agama. Sekularisasi yang terjadi dalam Islam sangat berbeda dengan terjadi di
Barat, baik dari titik tolaknya
maupun hasilnya. Sekularisasi di Barat berawal dari
pemisahan ilmu dari agama, dan berujung pada lepasnya ilmu dari agama (gereja).
Sedangkan yang dimaksud Sekularisasi yang terjadi dalam Islam
berawal dari lepasnya ikatan-ikatan tradisi yang berupa pemahaman agama para
pendahulu, dan berujung pada kembali kepada ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadits
(tidak terlepas pada keduanya).
Oleh
karena, itulah pendekatan digunakan dalam penggunaan sekularisasi di
sini juga dilihat dari jurusan religius (dalam arti Islam), sebab jika istilah
ini ditarik penggunaannya kepada Islam seperti terlihat dalam gagasan Thaha
Husein, maka ia berarti pembebasan umat Islam dari ikatan ajaran-ajaran agama
yang bukan mendasar, yang bersifat relatif, yang merupakan produk ulama
terdahulu (tradisi) atau dengan meminjam istilah yang dipopulerkan
Harun Hasution, membebaskan umat Islam dari keterkaitannya kepada ajaran-ajaran
agama yang dzanni yang merupakan tradisi pemahaman umat Islam.
Proses
pembebasan ini sangat diperlukan mengingat dua hal; pertama, akibat
perjalanan sejarah sendiri, umat Islam yang tidak sanggup membedakan di dalam
nilai-nilai yang disangkanya Islami, mana yang transendental, absolut dan
dasar, dan mana yang temporal dan relatif yang merupakan produk pemikiran
manusia; kedua, sekularisasi ini penting sebab tanpa adanya sekularisasi
pemikiran tidak akan berkembang. Bahkan tidak boleh dipertanyakan
ketentuan-ketentuan tradisi, termasuk tradisi pemahaman yang merupakan produk
para ulama terdahulu, atau istilah berkes pemikiran yang selalu terkungkung
dalam pandangan/pengalaman keagamaan tetap setiap kepada pandangan hidup abad
pertengahan.
Adapun
ide-ide Thaha Husein meliputi bidang-bidang sebagai berikut:
1) Bidang
Pendidikan
Dalam
bidang pendidikan Thaha Husein menaruh perhatian yang sangat besar. Hal ini
terlihat pada kata-kata yang pernah ia dilontarkan “Pendidikan teramat penting
bagi manusia seperti pentingnya udara dan air.”
Menurut
Thaha Husein tujuan negara Mesir mendirikan universitas adalah untuk mengangkat
pendidikan pemuda-pemuda Mesir adalah kemerdekaan berpikir. Universitas harus
mencerminkan intelektual, keilmuan, dan memiliki metode analisis modern. Semua
itu telah diraih Eropa dengan sistem pendidikannya yang mengutamakan kebebasan
berpikir dan kebebasan meneliti demi pengembangan ilmu pengetahuan. Oleh karena
itu, menurut Thaha Husein, selama seratus tahun terakhir ini dasar dan struktur
pendidikan murni adalah Barat. Berangkat dari
sinilah Thaha Husein menegaskan agar pendidikan Mesir
didasarkan pada sistem dan metode Barat mulai dari tingkat menengah sampai
dengan perguruan tinggi, demikian pula dalam metode penelitiannya. Lebih lanjut
gagasan yang lebih khusus ia tujukan kepada fakultas adab (sastra), karena
menurutnya, hakikat kehidupan modern menuntut agar fakultas ini lebih
memperhatikan berbagai studi Islam dengan metode yang benar.
Sebagai
realisasi dari gagasan-gagasan Thaha Husein ini terlihat antara lain ketika ia
diangkat menjadi menteri pendidikan Mesir (1950-1952M) yang berhasil menambah
fakultas kedokteran, administrasi dagang, pertanian, dan teknik. Di sisi lain
ia juga berhasil memperjuangkan pendidikan universal bagi pria dan wanita.
2) Bidang
Kebudayaan
Karya
terpenting Thaha Husein berkenaan dengan kebudayaan ini
adalah “Mustaqbal al-Tsaqafah fi
al-Mishr.” Dalam karyanya ini ia paparkan gagasan-gagasan yang dapat di sebut
sekuler. Menurut Thaha Husein, jika umat Islam ingin maju, mereka harus menjadi
orang Eropa dalam segala hal. Langkah yang harus diambil umat Islam khususnya
di Mesir untuk mencapai hal itu, menurutnya adalah dengan mempelajari secara
cermat sejarahnya dan memahami Mesir selamanya merupakan bagian dari Eropa.
Mesir itu bagian dari Barat, karena peradabannya adalah peradaban yang
didasarkan atas filsafat Yunani dan sistem hukum Romawi, dan bukan atas
peradaban India dan Cina. Baginya, di dunia ada dua peradaban, yaitu Barat dan
Timur. Mesir tidak termasuk dalam peradaban yang berasal dari timur. Muhammad
Ali yang membawa ide-ide dan teknik modern ke Mesir telah membuat ikatan yang
ada antara Mesir dan Eropa.
Lebih
lanjut dari itu Harun Nasution berpendapat dunia Barat maju karena sanggup
melepaskan peradaban dari ikatan-ikatan agama mereka. Karena peradaban itu
tidak didasarkan atas agama kristen, bahkan terlepas sama sekali dari
pandangannya, maka umat Islam akan mudah mengambil peradaban Barat
modern dan membawanya ke dunia Islam. Sebelumnya umat Islam juga telah
memasukan unsur-unsur Yunani dan Persia ke dalam Islam. Dengan
mengambil peradaban Barat, tanpa agamanya, umat Islam akan mendapat kemajuan
dan kehidupan modern.
Gagasan Thaha
Husein tentang alih peradaban Barat ini disebabkan yang selama ini dianggap
bertentangan dengan Islam, justru menurutnya menunjukkan bahwa peradaban
tersebut adalah peradaban Qur’ani, karena memang relevan dengan petunjuk
Al-Qur’an. Seperti ilmu dan teknologi, industrialisasi dan etos kerja yang
tinggi. Oleh karena itu, tidak ada satu pun alasan yang menghalangi umat Islam
untuk mengadopsinya. Namun di tengah-tengah seruannya yang gentar untuk
menghadapi peradaban Barat itu, ia tetap menegaskan pentingnya selektif dalam
rangka sebuah alih peradaban. Hal ini dapat dilihat dari perkataannya “
seseorang yang cerdik, bila ia akan memilih kebaikan untuk dirinya, ia akan
waspada menghadapi urusan agama dan dunianya, ia akan menerima hal-hal yang
baik dan terpuji dan akan menolak yang buruk lagi tercela sepanjang
kemampuannya.”
3) Bidang
Politik
Ide
Thaha Husein dalam bidang politik juga dinilai sangat kontroversial.
Hal ini dapat dilihat dari salah satu ungkapannya “sesungguhnya politik adalah
sesuatu dan agama sesuatu yang lain, dan sesungguhnya sistem pemerintahan dan
pembentukan negara adalah atas dasar manfaat-manfaat amaliah, bukan atas dasar
sesuatu yang lain”.
Berdasarkan
pendapat di atas, Thaha Husein dikelompokkan sebagaimana oleh Ali Abdul
Rozik kepada golongan yang berpendirian bahwa Al-Qur’an tidak mengatur masalah
politik atau ketatanegaraan. Nabi Muhammad SAW seorang rasul dengan tugas
tunggal, yakni mengajak manusia kepada kehidupan mulia dengan mengunjung tinggi
budi pekerti dan Nabi Muhammad SAW tidak bermaksud untuk mendirikan
dan mengepalai negara.
Dari
pernyataan tersebut Thaha Husein tersebut, dapat diambil pengertian bahwa
menurutnya sistem politik dan pemerintahan tidak disatukan dengan agama, karena
memang keduanya mempunyai pijakan yang berbeda, aspek pandangannya yang
berbeda, dan kesimpulannya pun akan berbeda. Hal ini bukan berarti politik
harus dikucilkan dari agama, dan demikian pula agama tidak harus dikucilkan
dari permasalahan politik, tetapi yang harus dilihat dari subjek politik dan
agama adalah manusia muslim yang beriman, dan bertakwa yang diramu
dengan pengetahuan dan teknologi
4) Bidang
agama
Adapun
ide-ide Thaha Husein meliputi bidang agama sebagai berikut:
a. Antara
Syair Jahiliah dan Al-Qur’an
Dengan
di awali ide pemikirannya tentang agama, Thaha Husein dengan hati-hati
melakukan perenungan yang dalam terhadap nash-nash Al-Qur’an dan Al-Hadits. Ia
mengadakan penilaian terhadap penafsiran-penafsiran terhadap ajaran Islam
selama ini dan melepaskan diri dari ikatan-ikatannya, kemudian ia mengajak
menyerukan untuk melakukan kerja intelektual (ijtihad baru), dengan Al-Qur’an
dan Al-Hadits dengan mempertimbangkan ilmu dan ide-ide yang sedang
berkembang. Suatu titik tolak yang biasanya dilakukan setiap pembaharu meskipun
ia tidak menunjukkan metodenya, sebab salah satu ciri dari seorang pembaharu
yang konsisten adalah memiliki akses yang kuat terhadap akar
tradisi Islam pada suatu sisi, dan memiliki akses yang kuat pula
kepada pemikiran Barat di sisi lain.
Sebenarnya
bukanlah sastra Arab jahiliah, tetapi karangan-karangan yang timbul di zaman
sesudah Islam. Hanya sebagian kecil saja dari apa yang disebut sebagai sastra
jahiliah dan itu benar-benar autentik. Karangan-karangan yang tidak asli itu
timbul dan dikatakan berasal dari penyair-penyair kenamaan di
zaman jahiliah untuk keperluan politik dan untuk memperkuat
argumentasi-argumentasi yang diajukan oleh ahli tata bahasa Arab, Ahli Tafsir,
Ahli Hadits, dan Teologi.
Selain
mengkritik keras metode yang dipakai dalam mengajarkan kesusastraan Arab. Thaha
Husein mencemooh sikap menerima secara membabi buta apa saja yang dikatakan
orang-orang terdahulu. Ia mengatakan “Merupakan suatu keinginan saya agar kita
tidak menerima begitu saja apa yang dikatakan orang-orang terdahulu tentang
kesusastraan kita dan sejarahnya, kecuali setelah adanya pengkajian dan
pemastian. Metode penelitian kritis seperti ini akan menjungkirbalikkan
ilmu-ilmu lama.
Dari
uraian di atas, akhirnya Thaha Husein berpendapat dalam bidang ini yaitu
menekankan agar umat Islam tidak menganggap sakral penafsiran para ulama
terdahulu, tentang masyarakat Arab pra-Islam. Dia menggagaskan agar penafsiran
itu dipandang duniawi saja, artinya tradisi pemahaman yang tidak pasti
mengikat. Apalagi pandangan para ulama terhadap syair jahiliah
adalah keliru, dan bertentangan dengan data yang ada dalam Al-Qur’an. Maka
persoalan selanjutnya yang perlu dicari jawabannya adalah
bagaimana sebenarnya pandangan Al-iQur’an mengenai masyarakat Arab
pra-Islam?
b.
Kisah Dalam Al-Qur’an
Gagasan
lain yang cukup mencengangkan adalah menyangkut kisah Nabi Ibrahim As dan Nabi
Ismail As. Thaha Husein mengatakan bahwa Taurat dan Al-Qur’an telah mengisahkan
kepada kita tentang Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As, tetapi munculnya kedua
nama tersebut dalam Al-Qur’an tidak menjamin keberadaannya secara historis. Pernyataan
tersebut sudah barang tentu menimbulkan kecaman dari ulama Mesir, termasuk
Rasyid Ridha yang menganggap Thaha Husein telah keluar dari Islam.
Untuk
menjalankan ide itu, Thaha Husein mengajukan ungkapan yang sangat sederhana,
yaitu “Sebagai seorang muslim ia mempercayai apa saja yang diterangkan
Al-Qur’an menyangkut kisah itu, namun sebagai seorang ilmuwan ia harus
berhati-hati sehubungan dengan metode ilmiah.
Dari
pernyataan Thaha Husein di atas, dapat diketahui bahwa Thaha Husein begitu
ekstrem memisahkan antara Al-Qur’an dan metode ilmiah dengan tanpa menyadari
bahwa semua ayat Al-Qur’an itu dapat diilmiahkan, dan menurut penulis ayat-ayat
Al-Qur’an itu sesuai dengan prinsip-prinsip ilmiah.
C . Metode
Berfikir Thaha Husein
Dalam
memandang setiap masalah dan memperoleh pengetahuan, ternyata Thaha Husein
menggunakan metode berfikir Cartesian. Hal ini diketahui dari penuturannya
bahwa ia ingin mengikuti jalan para ilmuan dan filsafat modern dalam memperoleh
ilmu pengetahuan. Sementara dalam berfilsafat Thaha Husein menggunakan metode
filsafat yang diperkenalkan oleh Descartes dalam membahas segala hakikat.
Thaha
Husein tidak ingin menerima apa yang telah dikatakan oleh para pendahulu
kecuali setelah melalui pembahasan dan penelitian walaupun hasilnya tidak
sampai kepada kepastian, akan tetapi dengan penelitian dan kajian tersebut,
seseorang bisa sampai kepada pendapat yang lebih kuat.
Thaha
Husein merumuskan metode sebagai kaidah-kaidah yang ketat yang memelihara rasio
seorang peneliti dari kesalahan dan memungkinnya untuk mencapai
kebenaran. Dengan demikian seseorang akan terhindar dari usaha yang
sia-sia.
Dengan
penekanan metode ini tampaknya Thaha Husein ingin menegaskan sikapnya untuk
menolak taklid terhadap produk para pendahulu, dan selanjutnya ia mengajurkan
penggunaan nalar bebas dan melakukan kritis atas segala sesuatu, sebab
memandang baha masyarakat Islam pada umumnya seolah-olah menerima begitu saja
produk-produk para pendahulu tanpa pernah mempertanyakan keabsahan dan
kesesuaiannya dengan kondisi masyarakat muslim pada masa produk tersebut
diterapkan.
Thaha
Husein menginginkan kaum muslim untuk menggunakan kebebasan berfikirnya tanpa
terikat dengan para pendahulu hingga terwujudnya dinamika intelektual yang
dinamis. Metode kritis ini tidaklah bertentangan dengan Alquran. Sekalipun
agama lebih tinggi dari akal, dan karena agama sejalan dengan akal maka
hendakanya agama didekati melalui jalan argumen yang rasional dengan metode
yang kritis.
Selanjutnya,
bertolak dari keinginannya untuk menerapkan metode kesangsian atau metode
kritik, Thaha Husein menarik suatu kaidah dasar bagi seorang peneliti yang ia
ambil dari metode Descartes bahwa apabila seseorang ingin sampai kebenaran maka
hendaklah ia mengosongkan pikirannya dari segala sesuatu yang ia ketahui
sebelumnya dan memulai pencarian dengan pemikiran yang kosong.
Hal
itu dimaksudkan oleh Thaha Husein agar pemikir-pemikir muslim tidak terikat
dengan tendensi-tendesi, paradigma dan aksioma dan segala tatanan kepercayaan
yang ada pada dirinya, terutama kebencian akan sesuatu.Seorang pemikir
hendaknya memandang sebuah kasus dengan pandangan yang murni dan kosong, tidak
timbul dari sentimen dan hawa nafsu dan tidak dipengaruhi oleh kebenaran dan
agama akan tetapi hanyalah pandangan-pandangan seorang sejarawan yang
mengosongkan diri dari sentimen dan keinginan-keinginan walau dengan perbedaan
fenomena, referensi dan tujuan.
Metode
ilmiah pada hakekatnya adalah suatu pengajaran terhadap kebenaran yang diatur
oleh pertimbangan logis, karena ideal sebuah ilmu adalah untuk memperoleh
interelasi sistematis dari fakta. Metode berfikir dan metode pendekatan ilmiah
yang bebas dari sentimen-sentimen, termasuk sentimen kegamaan bukan berarti
terlepas dari kebenaran seseorang kepada tuhan.
Metode
berfikir yang demikian dapat dibandingkan dengan gagasan-gagasan yang dikatakan
sebagai desekularisasi yang menghendaki pemandua antara berfikir dan dzikir.
Aktivitas berfikir didasarkan pada daya berfikir yang ada dalam diri manusia
sementara aktivitas berzikir didasarkan pada daya merasa yang ada pada diri
manusia, meskipun hasil kegiatan berfikir juga dipandang sebagai zikir.
Ada
beberapa ide gagasan pemikiran Thaha Husen yang menggemparkan, antara
lain:
a. Sasatra arab yang dikenal bukan berasal
dari sastra jahiliyah tatapi lahir di masa Islam dengan alasan mendukung
pemahaman Alquran. Kata Thaha Husein bahwa jahiliyah merupakan masa keemasan
para sastrawan, hanya saja orang pintar itu berprilaku bodoh.
b. Mesir
tidak termaksud peradaban timur seperti Cina dan India.
c. Faham
Nsionalisme Mesir. Pusat loyalitas dan kesatuan
nasional adalah negara dan bagian negara itu mesir. Dalam kesatuan
nasional itu ia melihat agama itu penting dalam nilai sosialnya yang merupakan
ide nasional yang memeperkokoh kesatuan negara.
d. Dia
memandang bahwa mesir perlu perombakan kurikulum. Tiap sekolah diberi
pendidikan sains dan nasionalis.
D. Karya-Karya
Thaha Husein
taha
Husain, adalah sosok manusia tangguh, dengan segala keterbatasannya, ia mampu
bangkit menjadi sosok tangguh yang tak gentar dengan keterbatasan yang ia
miliki sehingga mampu mengatasi kelemahannya. Taha Husain termasuk model
manusia pekerja keras ia banyak membaca buku, ia juga banyak menulis buku.
Dalam tema sastra ia menulis buku Fi al adab al Jahili (1925)
yang menjadi kehebohan. Dalam buku ini, beliau berpendapat bahwa sebagian besar
sastra Arab jahiliyah sebenarnya bukanlah sastra arab jahiliyah, melainkan
karangan – karangan yang timbul di zaman sesudah Islam dan hanya sebagian dari
sastra jahiliyah itu yang benar-benar otentik.
Pendapat
beliau ini mengudang kecaman banyak orang, ide itu diangap menghancurkan dasar
keyakinan pada keorisinilan syair jahiliyah yang kalau diterapkan pada hal –
hal yang langsung bersangkutan dengan agama akan merusak keyakinan orang
terhadap Islam. Taha Husain juga dituduh sudah keluar dari Islam bahkan
kalangan –kalangan di Universitas Kairo menuntut agar Taha dikeluarkan dan
untuk mengatasi kehebohan yang ditimbulkan akhirnya buku tersebut disita, dan
ia dihadapkan ke pengadilan, namun perkaranya dideep
Buku lainnya
berjudul al Fitnah al Kubra. Buku ini lebihtepat disebut buku sejarah
politik dan kekuasaan Islam pasca Nabi, isinya merekam berbagai konflik
kekuasaan Islam yang diwarnai banyak pertumpahan darah sejak terbunuhnya Umar
bin Khatab hingga gugurnya Hesein bin Ali. Masih banyak lagi buku-buku yang
ditulis oleh Taha, Pierre Cachia mencatat ada sekitar 33 karangan yang telah
dihasilkan Taha.
Thaha
Husein banyak menulis di berbagai media massa dan menulis buku. Buku-buku yang
ditulisnya antara lain adalah:
1. Mustaqbal
as-Saqafah fi Misr (Masa Depan Peradaban Mesir)
2. Fi
asy-Syi’r (al-Adabi) al-Jahili (Tentang Syair [sastra] Jahiliah)
3. ‘Ala
Hamisy as-Sirah, asy-Syaikhan (Komentar terhadap Sejarah Dua Tokoh)
4. Al-Fitnah
al-Kubra (Malapetaka Besar Dalam Sejarah Islam).
5. Wednesday
talk (حديث الأربعاء) a collection of essays on literary criticism
6. The
Sufferers: Stories and Polemics المعذبون فى الأرض
7. A
Man of Letters, a novel أديب
8. The
Days (3-Part Autobiography) الأيام
9. An
Egyptian Childhood طفولة مصري
10. The
Tree of Misery شجرة البؤس
11. The
Call of the Curlew دعاء الكروان
Dengan
tulisan-tulisannya Thaha Husein dapat menyingkirkan berbagai macam fanatik buta
yang berkembang di dunia Islam, dan berhasil menyemarakkan kembali keagungan
kebudayaan Islam serta menyebarkan pengertian demokrasi di kalangan umat Islam.
Komentar
Posting Komentar