Keindahan Ramadhan dan Perjuangan Mahasiswa Di Tanah Rantau Oleh Desi Ulvia


Opini



KEINDAHAN RAMADHAN DAN PERJUANGAN MAHASISWA DI TANAH RANTAU

Oleh :
Desi Ulvia

          Ramadhan adalah sayyidusy syuhur atau disebut juga dengan penghulu segala bulan. Penyebutan ini tentu saja memiliki alasan, salah satunya karena ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan memiliki berbagai keutamaan tersendiri yang tidak dimiliki oleh bulan lainnya. Ada begitu banyak keberkahan yang terkandung dalam bulan suci ramadhan baik keberkahan iman, kesehatan, rezeki dan juga lain sebagainya. Setiap umat Islam di dunia sangat menantikan bulan suci ramadhan. Ketika bulan suci ramadhan tiba maka tibalah saatnya untuk menunaikan ibadah puasa yang dilakukan selama sebulan penuh. Hal ini dijelaskan dalam Q.S Albaqarah ayat 185 yang berbunyi “Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-quran sebagai panduan untuk umat manusia, juga tanda yang jelas untuk bimbingan dan penilaian antara benar dan salah, selanjutnya jika salah seorang dari kamu mencapai bulan itu, maka ia harus berpuasa”.

            Keindahan dan keberkahan bulan suci ramadhan tentu saja di rasakan oleh seluruh umat manusia yang ada di muka bumi khususnya bagi yang menjalankan ibadah-ibadah di bulan suci ramadhan seperti puasa, shalat tarawih, tadarus dan juga ibadah lainnya. Biasanya bulan suci ramadhan adalah bulan yang paling harmonis bagi keluarga. Tentu saja, karena pada bulan ini seluruh sanak keluarga berkumpul, menghabiskan waktu bersama dan melakukan ibadah bersama-sama, salah satunya adalah sahur dan berbuka bersama. Hal yang satu ini menjadi momen yang sangat indah bagi setiap orang. Lalu bagaimana jika kita seorang mahasiswa harus menghabiskan ramadhan di tanah rantau? tentu saja segala aktifitas yang dirasakan dan dikerjakan akan berbeda.

            Menjadi seorang mahasiwa tentunya memiliki segudang aktifitas dan jadwal yang padat, di hantui oleh tugas-tugas dan juga rasa rindu yang begitu berat, rindu akan kampung halaman dan suasana rumah yang begitu hangat. Namun apa jadinya jika seorang mahasiswa tidak dapat berkumpul dan menikmati bulan suci ramadhan bersama keluarga karena perkuliahan dan tanggung jawabnya sebagai seorang mahasiswa? pasti ada rasa sedih di dalam hati. Terlepas dari kesedihan itu tentunya ada secercah rasa bahagia karena bulan suci ramadhan adalah bulan pembawa keberkahan dan kebahagian. Perjuangan menjalani ramadhan sebagai mahasiswa di tanah rantau kerap menimbulkan sensasi, bagaimana tidak setiap sorenya ketika hendak berbuka kita harus rebutan takjil dan bahan berbuka dengan yang lainnya, jika terlambat maka terpaksa harus berbuka dengan ala kadarnya, bahkan bisa saja berbuka hanya dengan sebutir kurma dan segelas air putih. Tentu saja kejadian ini tidak terjadi jika kita menghabiskan ramadhan di rumah yang segala sesuatunya telah disiapkan oleh ibu tercinta. Biasanya, ketika menjalakan shalat tarawih kita berangkat bersama keluarga namun menjadi mahasiwa di tanah rantau hal ini juga tidak dapat di rasakan.

            Berbagai aktifitas yang dilakukan oleh mahasiswa yang menjalani ramadhan di tanah rantau sangatlah menarik, salah satunya adalah bergabung bersama komunitas Ramadhan lalu menghabiskan waktu dijalan untuk membagikan takjil gratis kepada orang-orang di jalan, ini adalah salah satu bentuk pengabdian seorang mahasiswa yang tercantum Tridarma Perguruan Tinggi dan juga bernilai agamis. Ada juga sebagian mahasiswa lainnya yang membentuk dan mengikuti kegiatan tadarus berjamaah di masjid kampus. Kegiatan ini dilakukan di sela-sela waktu kampus. Ketika perkuliahan usai waktu tetap digunakan untuk hal-hal positif sehingga semakin membentuk intelektual diri yang baik.
            Sebagai seorang mahasiswa yang menikmati bulan suci ramadhan di tanah rantau tentu saja kita harus menyiapkan segala sesuatunya dengan sendiri. Ketika menjelang sahur mie instan pun menjadi antisipasi. Biasanya ketika sahur tiba kita di bangunkan oleh ibu untuk menyantap sahur bersama, namun berbeda halnya dengan mahasiswa di tanah rantau harus melawan malas dan bangun lebih awal kemudian masak dan menyantap sahur sendirian di kamar kost. Benar-benar butuh perjuangan yang keras dan hati yang tabah untuk melewati ramadhan di tanah rantau.

            Hal yang pastinya dirasakan oleh semua mahasiwa perantau adalah ketika terlambat tidur karena mengerjakan tugas kampus dan akhirnya tidak sadar untuk bangun sahur, namun tetap berpuasa meskipun tanpa sahur. Hal ini juga bagian dari perjuangan dan tentunya masih banyak lagi hal-hal lainnya yang dialami oleh seluruh mahasiswa yang menjalani bulan suci ramadahan di tanah rantau. Meskipun demikian menjalani bulan suci ramadhan di tanah rantau juga memiliki keindahan tersendiri, dimana kecintaan kita terhadap keluarga semakin bertambah dan kerinduan pun semakin besar sehingga meningkatkan semangat belajar untuk mendapatkan nilai terbaik di kampus. Tak hanya itu kita juga belajar meningkatkan ibadah dan menjadi lebih mandiri.  Jadi untuk seluruh mahasiswa yang sedang menikmati bulan suci ramadhan di tanah rantau teruslah berjuang dan jangan lupa bahagia, sambutlah bulan yang penuh berkah ini dengan semangat juang dan antusias yang tinggi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Time, Priority and Focus

Berhenti dan Pulang