TURKI MODERN DAN UPAYA ISLAMISASI Oleh Karnila


BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
            Turki memiliki latar belakang sejarah yang panjang di mana Turki pernah menjadi ajang perebutan kekuasaan atau pengalihan kekuasaan, seperti kerajaan Romawi Timur atau Bizantium, Dinasti Saljuk, Dinasti Ottoman hingga akhirnya menjadi Turki yang modern dibawah pimpinan Mustafa Kemal Ataturk. Transisi perpindahan kekuasaan inilah yang mengakibatkan Turki memiliki kekayaan khazanah berbagai peradaban. Di samping itu pula adanya daya tarik pesona alam yang esotik menjadi Turki kawasan yang cukup menarik perhatian banyak wisatawan domestic maupun wisatawan mancanegara. Daya tarik pesona alam ini dilatar belakangi karena keadaan iklim, curah hujan serta letak dan keadaan geografis Turki.
            Hal lain yang menarik dari Negara Turki yaitu salah satunya ialah tradisi yang berkembang dalam kehidupan social budaya yang tercipta di dalam komunitas masyarakat Turki. Dalam kehidupan masyarakat, orang- orang Turki senang bersilaturahmi dengan individu lainnya maupun antar komunitas lainnya. Hal ini dilakukan untuk menjalin persaudaraan erat di antara mereka. Selain itu juga dari hubungan harmonis yang tercipta dalam kehidupan masyarakat Turki dapat memberikan keuntungan tersendiri bagi industry pariwisata, yaitu memberikan kenyamanan bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Turki. 


   

BAB II
PEMBAHASAN
(TURKI MODERN DAN UPAYA ISLAMISASI)

A.    Perkembangan Islam di Turki

a.       Turki pada masa Dinasti Utsmani
            Turki memiliki sejarah yang gemilang. Saat kepemimpinan Islam berada di bawah Turki Utsmani, Islam mengalami banyak kemajuan terutama dari sisi kemiliteran. Mereka pernah berkuasa selama  delapan abad, sejak 1281 hingga 1924 M. Pengaruh dinasti Turki Utsmani menjangkau wilayah yang sangat luas hingga ke Eropa Timur, Asia Kecil, Asia Tengah, Timur Tengah, Mesir, dan Afrika Utara.[1]
            Pada masa sultan Muhammad II (Muhammad al-Fatih), umat Islam berhasil menaklukkan Kota Konstantinopel, kota yang merupakan pusat agama Kristen Ortodoks dan menyimpan banyak ilmu pengetahuan. Ketika menaklukkan kota yang merupakan Ibukota imperium Romawi Timur itu, Sultan Muhammad al-Fatih mengganti nama kota itu menjadi Islambul (Istanbul) yang berarti kota Islam dan menjadikannya sebagai ibukota. Ia memerintahkan agar azan dikumandangkan di Gereja Aya Sophia sebagai pengumuman bahwa gereja itu diubah menjadi masjid. Di antara Negara-negara muslim, Turki Utsmani merupakan Negara yang dapat mendirikan kerajaan yang paling besar dan paling lama berkuasa.

b.      Keruntuhan Khilafah Utsmani dan lahirnya Sekularisasi
            Pada tahun 1915, Ketika Perang Dunia I meletus, Turki bergabung dengan Jerman yang kemudian mengalami kekalahan. Akibatnya, kekuasaan kerajaan Turki Utsmani semakin terpuruk. Partai Persatuan dan Kemajuan Utsmani memberontak  kepada Sultan dan dapat menghapuskan kekhalifahan Utsmani dan membentuk Turki modern pada tahun 1924 M. semua daerah kekuasaan Utsmani yang luas, baik di Asia maupun di Afrika diambil oleh negara-negara Eropa yang menang.
            Pada tahun 1923, Mustafa Kemal Ataturk ditetapkan sebagai presiden Republik Turki sepanjang hidup. Ia sebagai kepala pemerintah, dan sebagai kepala Republican People’s party (Partai Republik). Rezim ini tidak mentolerir partai oposisi kecuali terhadap Progressive Party tahun 1924 dan Liberal Party pada tahun 1929 dan 1930, meskipun dalam waktu yang sangat singkat.
            Partai Republik merupakan instrument rezim terbesar di turki dan beberapa dinas perkantoran. Rezim ini menyebarkan informasi kemajuan pertanian, mengorganisri program pendidikan, dan mengajarkan idiologi nasional dan sekuler kepada masyarakat. Pada masa Kemal, ulama dan bangsawan lokal dikucilkan dan pekerjaan tokoh-tokoh agama semakin sempit sehingga sekolah-sekolah agama semakin kurang diminati.
            Tujuan utama turki Kemalis adalah pembangunan ekonomi dan modernisasi kultural. Kebijakan rezim kemalis yang paling penting adalah revolusi kultural. Mustafa kemal berusaha memasukkan massa ke dalam frame work ideologis dan kultural rezim republik, merenggangkan keterikantan masyarakat umum terhadap Islam, dan mengarahkan mereka kepada pola kehidupan barat dan sekuler. Rezim kemalis menghapuskan sejumlah lembaga organisasi Islam.[2]
            Tokoh utama gerakan nasionalisme Turki adalah Mustafa Kemal. Tetapi, ia bukan satu-satunya pemikir yang melahirkan ideologi nasionalisme Turki. Mustafa Kemal sendiri mendapatkan inspirasi dari para tokoh Usmani Muda dan Turki Muda yang merupakan produk dari kebijakan reorganisasi yang dicanangkan oleh sultan Hamid II. Di antara pemikir Turki yang meletakkan dasar semangat nasionalisme adalah Yusuf Akcura (1876-1933) dan Zia Gokalp (1875-1924).
            Kebijakan rezim Kemalis yang paling penting adalah revolusi Kultural. Mustafa kemal berusaha memasukkan massa ke dalam frame work ideologis dan kultural rezim Republik, merenggangkan keterikatan masyarakat umum terhadap Islam. Rezim Kemalis menghapuskan sejumlah lembaga organisasi Islam. Kesultanan Usmani dihapuskan pada tahun 1923, sedang khalifah dihapuskan pada tahun 1924. Lembaga wakaf dan ulama dikuasakan kepada kantor urusan agama. Pada tahun 1925 beberapa thariqat sufi dinyatakan sebagai organisasi terlarang (ilegal) dan dihancurkan. Pada tahun 1927 pemakaian turbis dilarang.
            Pada tahun 1928 diberlakukan tulisan latin menggantikan tulisan Arab, dan mulai dilancarkan upaya memurnikan bahasa Turki dari muatan bahasa Arab dan Persi. Pada tahun 1935 seluruh warga Turki diharuskan menggunakan nama kecil sebagaimana yang berlaku dengan pola nama Barat. Dalam rentangan abad ini diberlakukan kitab hukum keluarga yang didasarkan pada kitab hukum Swiss menggantikan hukum syariah. Demikianlah, Islam telah dilepaskan dan diasingkan perannya dalam kehidupan masyarakat dan simbol-simbol ketergantungan bangsa Turki terhadap kultur tradisional digantikan dengan sistem hukum, kebahasaan, dan beberapa sistem identitas modern lainnya.
            Undang-undang Keluarga 1924 mengharamkan poligami, dan menjadikan suami dan istri berkedudukan sama dalam perceraian. 1934 kaum wanita diberi hak untuk dicalonkan dalam pemilihan nasional. Pada tahun 1935 beberapa perwakilan wanita terpilih dalam parlemen Turki.[3]

B.     UPAYA ISLAMISASI
            Sejak tahun 1996, telah terjadi pertarungan sengit antara kubu Islam dan kubu sekuler di Turki. Hal ini ditandai dengan keberhasilan Partai Islam Refah yang dipimpin oleh Necmettin Erbakan sebagai pemegang kekuasaan. Selama berkuasa, Refah sangat menghormati ideologi sekuler negara Turki modern yang telah ditanamkan oleh Mustofa Kemal Ataturk sehingga tidak sampai merusak tatanan demokrasi negara tersebut. Begitu juga saat ini, keberhasilan itu pula yang ditunjukkan oleh Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang dipimpin oleh Recep Thayyeb Erdogan. Erdogan dapat menarik simpati rakyat Turki dan berkuasa melalui mekanisme konstitusional dan demokratis. Langkah ini sangat kontras dengan peristiwa pertumpahan darah yang kerap mewarnai kehidupan politik negara Arab & Islam lainnya. Sebenarnya, dalam gerakan yang diusung Islam Turki untuk menciptakan perubahan, terdapat 2 macam strategi yang dapat dipilih.
            Strategi yang pertama adalah strategi Islamisasi dari bawah ke atas. Strategi ini menggunakan pendekatan perubahan dari dalam dengan melancarkan aksi Islamisasi secara intensif atas sektor tertentu yang dianggap berpengaruh kuat. Strategi inilah yang digunakan oleh gerakan An-Nur, gerakan Sulaimaniyah, serta sejumlah kelompok sufi. Begitu pula dengan partai politik seperti Partai Refah, Fadhilah, dan AKP. Dalam pandangan strategi ini, pergerakan Islam harus jauh dari logika revolusi frontal dan harus berorientasi pada pencapaian jangka panjang. Tujuan utama pergerakan mereka adalah menciptakan pembangunan sosial yang Islami di tengah masyarakat Turki yang dianggap sangat sekuler.
            Landasan teologis mereka adalah pandangan bahwa Al-Qur’an menganjurkan perubahan secara bertahap dimulai dengan perubahan pada satuan terkecil yaitu tiap individu hingga satuan terbesar yaitu negara Turki itu sendiri. Kelompok-kelompok tersebut berusaha memperkuat eksistensi mereka terlebih dahulu baru kemudian mengaktualisasikannya kepada masyarakat dengan memanfaatkan media informasi modern. Dalam strategi Islamisasi dari bawah ke atas ini juga terbagi lagi menjadi 2 persepsi.
            Persepsi pertama adalah berusaha mengambil alih kekuasaan secara konstitusional dan menanamkan falsafah politik Islam ke dalam sistem politik Turki. Partai Refah hingga AKP cenderung menganut persepsi pertama ini. Sedangkan, persepsi kedua adalah berusaha melakukan interaksi politik dengan partai-partai sekuler dengan asas saling memberi manfaat dan menjadi unsur penekan Islamisasi dari dalam. Gerakan An-Nur, Sulaimaniyah, dan kelompok sufi cenderung menganut persepsi kedua ini. Tujuan utama perjuangan mereka adalah mengembalikan nilai-nilai tradisional Islam ke dalam kehidupan budaya, sosial serta membangun masyarakat Muslim yang berakhlak mulia. Mereka pun berkeyakinan bahwa jika tujuan utama tersebut tercapai, akan dapat membuka jalan terciptanya sistem politik baru yang berdasarkan hukum Islam.
            Strategi yang kedua adalah strategi Islamisasi dari atas ke bawah. Strategi ini menggunakan pendekatan revolusi melalui aksi kekerasan serta politisasi kelompok-kelompok keagamaan tradisional dengan cara melancarkan aksi terorisme dan konspirasi. Strategi inilah yang digunakan oleh kelompok minoritas yang terpengaruh oleh kesuksesan revolusi Iran pada tahun 1979. Dalam pandangan strategi ini, negara Islam tidak akan dapat berdiri tanpa adanya konfrontasi dan berjihad serta rela mati syahid. Kelompok minoritas yang menganut strategi ini adalah Hizbullah Turki, IBDA-C, dan kekuatan Islam radikal lainnya.
Sementara itu dalam implementasinya, pergerakan Islam dengan strategi pertama lebih banyak digunakan. Impelementasi pergerakan Islam dilakukan dengan menyusupkan kader-kader ke dalam tubuh lembaga-lembaga sipil negara, swasta, militer, dan kepolisian. Pembentukan kader ini sudah mulai terlihat ketika terbentuknya koalisi Partai Salamah membentuk pemerintahan pada tahun 1974. Sejak saat itulah lembaga-lembaga sipil negara telah diwarnai oleh kader-kader gerakan Islam yang berhasil memegang sejumlah departemen pada kabinet koalisi. Kebijakan ini membuat ambruk koalisi pimpinan Perdana Menteri Bulent Ecevit pada 18 September 1974. Dia mengajukan surat pengunduran diri kepada Presiden Turki yang menyatakan tidak mungkin bila dia membantu Partai Salamah mengambil alih kekuasaan. Namun, Partai Salamah tidak menyerah. Pada koalisi front nasional pertama 12 April 1975, Partai Salamah tetap menempatkan kader-kadernya dalam berbagai lembaga sipil negara dan swasta hingga terjadi krisis internal pada koalisi tersebut.
 Namun, Selama momentum koalisi tersebut, Partai Salamah telah berhasil memanfaatkannya untuk menambah jumlah lembaga studi dan penghafal Al-Qur’an serta sekolah yang mencetak imam dan khotib yang meningkat hingga berjumlah 376 sekolah. Perjuangan selanjutnya dilanjutkan oleh Partai Refah dan Partai Fadhilah hingga akhirnya Partai AKP yang meraih kesuksesan pada pemilu tahun 2002 lalu. Kesuksesan ini tidak lepas dari penempatan kader-kader yang telah dilakukan oleh Partai Salamah sejak awal. Begitu pula dengan lembaga militer Turki yang dikenal sebagai pelindung setia sistem negara sekuler dan doktrin Kemal Ataturk dari ancaman dalam dan luar. Kebijakan yang dilakukan adalah dengan menempatkan kader-kader Islam di tubuh militer tanpa melalui konfrontasi.[4]
Kebijakan ini sudah dimulai sejak tahun 1960an ketika karangan ulama terkemuka Turki, Sheikh Said Al-Nursi, disebarkan ke akademi militer Turki. Selain itu, pendekatan pun dilakukan partai-partai Islam dengan lembaga militer. Hal yang sama terjadi dengan lembaga kepolisian. Para aktivis Islam merekrut para pelajar cerdas yang kemudian ditempatkan di rumah-rumah mereka tanpa biaya. Para pelajar tersebut kemudian didaftarkan pada akademi kepolisian untuk menjadi kader-kader Islam masa depan yang dapat melakukan Islamisasi pada lembaga tersebut.
C.     Turki Masa Kini
            Meski dibendung oleh konstitusi Sekuler, umat Islam di Turki sadar betul bahwa mereka adalah umat Islam dan memiliki sejarah Islam yang gemilang di masa lalu. Kini, sedikit demi sedikit, masyarakat Islam di Turki mulai menunjukkan identitas keislaman mereka diantaranya dengan berjilbab. Tren jilbab di Turki tak bisa dibendung. Hasil survei terbaru yang dirilis Yayasan Studi Ekonomi dan Sosial yang berbasis di Istanbul menunjukkan, 60 persen perempuan Turki kini mengenakan jilbab. 
            Semarak jilbab itu juga diikuti dengan menjamurnya produk busana muslim di Turki. Jilbab yang dilarang pemakaiannya pada masa lalu, kini diopinikan sebagai hak perempuan yang harus dihormati. Jilbab kini juga mulai memasuki wilayah pendidikan. Setelah melalui perjuangan yang cukup keras, kini mulai terlihat banyak mahasiswi mengenakan jilbab di kampus-kampus,  Bahkan ada di Istana Negara.         Kini, di Turki juga orang-orang dilarang menghina Islam. Jika dulu Turki dikenal sangat sekuler sehingga identitas Islam dimusuhi dan menghina agama tidak dipermasalahkan, kini menghina terhadap Islam bisa berurusan dengan pengadilan.
            Upaya "islamisasi" juga difasilitasi pemerintah dengan rencana mengaktifkan kembali Masjid Aya Sophia sebagai tempat ibadah umat Muslim dan mengajarkan Al-Qur'an di sekolah-sekolah umum. Semua ini tak terlepas dari pemerintahan Presiden Abdullah Gul, dan perdana Menteri, Recep Tayyip Erdogan yang kembali memenangkan pemilu Turki pada tahun 2011. Erdogan secara perlahan mengurangi sekularitas Turki. Itu terlihat dari banyaknya simbol Islam di jalan-jalan Istanbul, seperti jilbab. Recep tayyip Erdogan, berniat menghapus larangan mengenakan jilbab yang dikenakan bagi mahasiswa di seluruh perguruan tinggi di negaranya. Larangan jilbab itu dikatakannya telah melanggar kebebasan beragama.
            Turki juga mulai kembali mengajarkan al-Qur’an dan menulis Arab. Sebelumnya Turki memang melarang pengajaran Al-Qur'an dan bahasa Arab di sekolah-sekolah Turki selama seratus tahun telah membuat masyarakat Turki banyak yang tidak bisa membaca Al-Quran dan menulis Arab. Padahal, Turki pernah menjadi pusat peradaban Islam selama lima abad Khilafah Turki Usmani.








                [1] Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban Dikawasan Dunia Islam, (Jakarta: Rajawali Pers) hlm, 218.
                        [2] Erik J. Zurcher,Sejarah Modern Turki (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003), hal 228

                [3] Oemar Amir Hoesen, Kultur Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1964), hal. 505
                        [4]  Ira. M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam (Jakarta: Rajawali Press, 1999), jilid III, hal. 97


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Time, Priority and Focus

Berhenti dan Pulang