cerpen/aku dan Hidayah-Mu/Shafira/Komunitas Muda Menulis
Aku dan Hidayah-Mu
Oleh Shafira Ulia
Azan shubuh sudah berkumandang, aku pun langsung bergegas mandi dan
mengambil wudhu’ untuk menunaikan shalat shubuh. Seperti biasa siap shalat
shubuh sebelum berangkat ke sekolah terlebih dulu aku membantu ibu menyiapkan
sarapan. Setelah itu kami pun makan bersama keluarga.
Pagi itu matahari bersinar sangat cerah seolah-olah memberi isyarat
kebahagiaan setelah malam menyelimutinya tadi.
Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 WIB. Aku langsung berpamitan pada
ibu untuk ke sekolah. Oh yaa aku sekolah di MAN 07 Pidie. Sesampai di sekolah
seperti biasa sebelum memulai pelajaran kami terlebih dulu membaca beberapa
ayat suci Al-Quran.
Hari ini kami pulang jam 12.00 karena hari jumat, tapi tidak dengan
aku. Setiap jumat aku selalu mengikuti kegiatan ROHIS. Aku pun langsung menuju
mushalla sekolahku untuk mengikuti kajian. Sesampai disana sudah ramai
kawan-kawanku yang berkumpul. Hari itu pengisi kajian kami datang agak telat,
karena dia harus mengurus anaknya dulu yang lagi kurang sehat katanya.
Berhubung belum ada pengisi kajian, kami pun saling
curhat-curhatan. Entah kenapa kawan-kawanku pada hari itu membahas tentang
mengenakan jilbab syar’i. aku yang mendengarnya pun sangat merasa tersindir.
Bagaimana tidak, aku tidak pernah mengenakan jilbab besar dan tebal seperti
yang dikenakan kawan-kawanku.
Aku lebih suka memakai jilbab paris yang notabene nya sangat tipis
dan kecil. Tapi aku merasa nyaman dan tidak kepanasan.
“ukhty maaf ni, bukannya niat saya menyindir tadi, tapi bolehkah
saya bertanya?”, Tanya kawanku. Aku pun langsung membalasnya “ia boleh, emang
mau bertanya apa?”.
Kawanku tidak langsung menjawab pertanyaanku, tapi aku seolah-olah
sudah mengerti apa yang ingin dia tanyakan, “kamu mau tanya kenapa aku lebih
suka mengenakan jilbab tipis ini kan dibandingkan dengan jilbab syar’i seperti
yang kalian pakai?”, gumamku dengan suara yang keras.
Kawan-kawanku yang lain yang mendengarnya pun langsung duduk
disamping kami berdua, karena mereka mendengar suara teriakan aku yang keras
tadi. Mereka menanyakan ada apa denganku. Aku pun langsung diam, dan aku sempat
melihat kawanku tadi matanya sudah sangat berair, aku tau dia seperti ingin
menangis.
Mereka menanyakan kepada kawanku tadi ada apa dengan kami berdua.
Tapi belum sempat dia menjelaskan, guru pengisi kajian kami pun datang.
“Assalamu’alaikum”, sapa guru itu kepada kami semua.
“Wa’alaikumussalam ustazah”, kami menjawab dengan serentak.
“Bagaimana kabarnya anak-anak ustazah semua, apa kalian baik-baik
saja?”
“Alhamdulillah baik ustazah”, jawab mereka dengan semangatnya. Tapi
tidak dengan aku, aku memilih untuk diam saja. Rasanya aku sudah tidak mood
lagi berada di ruangan ini, gara-gara kawanku tadi. Aku berpikir sambil
bergumam dengan suara kecil “sok suci kali sih tuh cewek, dia pikir dengan dia
sudah berjilbab syar’i gitu apa sudah menjamin dia masuk syurga gituuu…”.
Ustazah kami pun langsung memberi kajian kepada kami.
“Baiklah anak-anak, ustazah hari ini mau mengisi kajian tentang
hukum mengenakan jilbab syar’i bagi perempuan”, kata ustazah itu.
Jlebbbb,,,, seketika kupingku langsung panas mendengarnya, sangat
sakit hati hatiku bagai disambar petir disiang bolong, tadi kawanku pun
membahas tentang ini, kajian hari ini pun diisi dengan materi ini.
Aduuuuh, serasa aku pengen keluar dari ruangan yang membuat hatiku
panas itu, tapi itu sungguh tidak mungkin. Dengan rasa malasnya aku pun
mengikuti kajian itu dengan khidmat.
Seperti biasa setelah ustazah mengisi kajian, akan ada sesi
Tanya-jawab. Kawanku yang tadi langsung bertanya kepada ustazah.
“ustazah, apa ada ayat yang menjelaskan tentang hukum bagi wanita
yang harus mengenakan jilbab syar’i, dan apakah bagi perempuan yang sudah
mengenakan jilbab syar’i itu sudah menjamin dia masuk syurga?”, Tanya kawanku.
Mendengar pertanyaan dia, rasanya tanganku ini sudah sangat gatal.
Rasanya ingin ku tampar wajahnya yang sok lugu itu.
Setelah bertanya dia menatapku dengan wajah sendunya. “Maaf aku
tidak bermaksud menyindirmu, tapi aku hanya ingin memastikan dari ustazah bahwa
kita yang muslimah ini memang wajib untuk mengenakan jilbab syar’i. sekali lagi
aku minta maaf kalau ada kata-kataku yang salah”, kata kawanku dengan tulus.
Aku tidak menjawab apa-apa dan aku hanya mendiamkannya saja. “ah….
Mendingan aku diamin dia saja, biar dia tau rasa. Apa dia pikir aku gak sakit
hati dengan kata-katanya tadi, sukak-suka aku lah mau pakai jilbab kek gimana”,
pikirku.
“Baiklah anak-anak, ustazah akan menjawab pertanyaan dari kawan
kalian tadi”, kata ustazah kami.
“Nah mengenai tentang hukum wanita mengenakan jilbab syar’i itu
wajib wahai anak-anakku sekalian. Di dalam surah Al-Ahzab Allah sudah berfirman
yang artinya wahai nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak peempuanmu
dan istri-istri orang mukmin: hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh
tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal karena
itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah maha pengampun dan penyayang”.
“Dari ayat itu saja sudah
jelas kita wajib mengenakan jilbab yang menutupi dada kita dan tidak
menampakkan lekuk tubuh kita. Tapi kalau kita lihat sekarang ini bagaimana
wanita berhijab, mereka mengenakan jilbab pendek dengan sangat tipis. Ustazah
harap semoga anak-anak ustazah tidak ada yang mengenakan jilbab kek gitu ya”,
jelas ustazah kepada kami.
Aku yang mendengarnya rasa
pengen berteriak, bagaimana tidak kajian hari ini hanya itu-itu saja yang
dibahas.
Akhirnya kajian hari itu pun selesai. Dan aku langsung bergegas
pulang. Diperjalanan pulang yang ada dipikiran itu hanya hukum mengenakan
jilbab syar’i bagi muslimah, hanya itu-itu saja yang tergiang di pikiranku.
Sorenya aku langsung menuju
ke kamarku. Aku pengen menikmati indahnya senja lewat jendela kamarku, dan aku
benar-benar ingin menikmatinya dalam kesunyian sore ini. aku memang sangat
menyukai senja, tapi sayangnya aku tidak dapat merabanya aku hanya bisa melihat
dan menikmati keindahannya yang berwarna merah jingga itu.
Sambil menikmati indahnya
senja, aku kepikiran lagi tentang jilbab syar’I itu. “ apa iya selama ini aku sudah
terlalu banyak dosa, aku sudah tidak memakai jilbab seperti yang Allah
anjurkan”, gumamku.
Tanpa terasa air mata ini
mengalir dengan derasnya, disitulah aku sadar betapa hinanya aku selama ini.
Padahal aku tau memakai jilbab syari itu memang wajib bagi seluruh umat
muslimah ini.
Aku pun langsung menangis
sejadinya-jadinya seraya memohon ampun kepada Allah.
Satu minggu telah berlalu.
Jumat ini seperti biasanya
kami semua mengikuti kajian ROHIS itu.
Tapi ada yang berbeda dengan
diriku, semua kawan-kawanku menatap dengan heran seraya berkata, “ subhanallah,
betapa anggunnya kamu mengenakan jilbab syar’I begini wahai ukhty”, puji
kawanku.
Aku yang mendengarnya sangat
senang, “terima kasih kawan, ini semua berkat kalian yang telah menyadarkan aku
untuk mengenakan jilbab syar’I”, ucapku.
Aku bertanya kepada
kawan-kawanku tentang kawan yang kemarin menceramahi pajang lebar, rupanya dia
sedang sakit dan tidak bisa hadir mengikuti kajian hari ini. “ sudah seminggu
dia tidak bisa datang ke sekolah, karena dia sendang tipes, dan sekarang dia
lagi di rawat di rumah saki” jelas kawanku.
“iya dia lagi di rumah sakit,
rencananya kita hari ini tidak mengadakan kajian, dan barusan aku sudah
menghubungi ustazah, katanya kita liburkan saja kajian hari ini, dan kita
disuruh jenguk kawan kita yang lagi di rumah sakit”, jelas kawanku yang
lainnya.
Aku sangat terpukul mendengar
kabar ini, “ ya udah kita langsung ke rumah sakit aja yook”, ajakku dengan
suara serak.
Kawan-kawanku pun semua
menyetujuinya, dan kami langsung menuju ke rumah sakit.
Sesampai disana aku langsung
masuk ke ruangan yang bau khasnya akan obat-obatan, dan aku langsung memeluk
kawanku itu dengan erat. “maafin aku, aku tau kemarin itu aku salah, aku udah
ngebentak kamu dengan suara kasar, dan sekarang aku sadar, rupanya selama ini
emang aku yang salah, tapi sekarang aku sudah hijrah untuk mengenakan jilbab
syar’I sepeti yang dianjurkan oleh agama kita”, ucapku dengan air mata yang
terus mengalir.
“Heyyy,, kok nangis, senyum
dong. Aku senang looh lihat kamu sudah berubah kek gini, betapa anggunnya kamu
mengenakan jilbab begini, tetap istiqamah ya”. Pinta kawanku dengan suara
lemahnya.
Dengan suara serak aku pun
menjawab, “ insya allah aku akan terus istiqamah menuju hijrah ini, mungkin
Allah memberikan hidayahnya itu kepadaku melalui kamu kawan jannahku”.
“ Tetaplah ajari aku kalau
ada yang salah didiriku, tetaplah berada di sampingku hingga akhir hayatku
ini”, pintaku kepada kawanku.
Akhirnya kawan-kawanku lain
yang mendengarnya mereka pun ikut terharu dengan kejadian ini. dan kami semua
berpelukan dengan hati yang senang dan bahagia.
Itulah cerita hijrahnya aku, aku yakin sahabat sholehah adalah kunci dalam
berhijrah, seperti pepatah yang mengatakan kitapun akan terasa harum jika
bergaul dengan tukang parfum. Maka sering-seringlah berkumpul dengan orang
sholeh yang bisa menuntun kita menuju kehidupan yang lebih baik karena akan
banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari lingkungan tersebut.
Tapi bukan
berarti kita juga membatasi diri dalam bergaul, namun kita hanya lebih selektif
dalam memilih pertemanan. Terima kasih sahabat until jannahku, semoga aku akan
tetap istiqamah dengan pilihanku ini. Aku yakin Allah telah menitipkan
hidayahnya kepada ku itu melalui kamu.
Komentar
Posting Komentar