Cerpen/Ranu Kumbolo Has Changed Our Lives/Marza/
Ranu Kumbolo
Has Changed Our Lives
Karya: Marza
Halis Munthe
(Juara I Cerpen terbaik kelas online Komunitas Muda Menulis)
Cerita
klasik ini dimulai sejak 4 tahun lalu, pada awal tahun 2014. Januari kala itu
menjadi tonggak bersejarah awal perubahan kehidupanku. Adalah di Ranu Kumbolo,
sebuah danau yang terletak didekat desaku, Lumajang, Jawa Timur. Tepat berada
dibawah kaki gunung Semeru. Namaku Putri, bersama temanku, Ghania. Kami adalah
sahabat sejak masih berumur belia. Hampir setiap sore, kami berdua selalu
menikmati indahnya matahari terbenam di timur danau Kumbolo. Hingga disanalah
kami pernah membuat janji, untuk sukses bersama-sama.
Masalah
utama terletak pada ekonomi keluarga kami, Ayah dan Ibuku adalah seorang
petani, pun halnya dengan orang tua Ghania. Selama sekolah, kami hanya aktif
bermain basket. Bagi kami, basket adalah segalanya. Kami sering mewakili
sekolah bermain basket tingkat sekolah, walaupun hanya pebasket amatiran.
Disamping itu, kami sangat berambisi untuk menjadi pemain basket kelas dunia.
Dari tempat
inilah kami belajar, untuk menjadi insan yang paling jernih seperti jerninya
air tawar Ranu Kumbolo. Begitu pula ingin menjadi yang paling tinggi dan kuat
seperti kuatnya gunung semeru. Tempat ini menjadi motivasi tersendiri bagi
kehidupan kami yang sederhana ini.
"Aku
bingung nia!", kataku padanya
"Mengapa
begitu?", jawabnya tenang
"Bagaimana
kita yang tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi bisa sukses
nantinya?", Aku bertanya lantang
"Mau
bagaimana lagi, lagipula bukankah perempuan itu tidak dituntut untuk memiliki
pekerjaan?", jawabnya santai
"Tapi
aku ingin sukses!" jawabku dengan penuh ambisi
"Mau
jadi apa? Guru? Atau pegawai dinas?", tanyanya
"Jikapun
aku tidak sukses sebagai alat negara, Aku ingin sukses sebagai atlit basket
nia!" jawabku dengan penuh harap
"Aku juga
mau dan berkeinginan sepertimu, Put. Tapi pebesket amatiran seperti kita tidak
akan dapat bersaing diluar sana!" jawabnya mengeluh.
Percakapan itu
terus saja berlanjut sejak kami lulus SMA pada pertengahan tahun 2012 lalu, hingga
akhir tahun 2012. Tepat pada malam tahun baru, kami melakukan
"ritual" rutin kami setiap tahun. Adalah menulis selembar surat penuh
harapan akan hidup dan kesuksesan bersama. Surat itu tertulis rapi dan teratur
serta telah dihias dengan seindah mungkin. Terbingkai oleh rasa penuh harap, tertulis
dengan tinta keinginan dan pengorbanan. Guna memberikannya kepada Ranu Kumbolo
sang motivator tersendiri kami.
Tepat pada
hari selasa, 1 Januari 2013. Pada hari perayaan tahun baru, kami berlari
kegirangan menuju Ranu Kumbolo sang motivator abadi kami yang tak begitu jauh
dari desa. Kedua surat penuh harap yang tergambar dari sisi luar telah kami
satukan berdua. Kami letakkan kedua surat itu kedalam rakit kecil yang telah
kami siapkan setiap tahun, guna dapat membawa surat kami ketengah danau Ranu Kumbolo.
Agar dapat dirasa oleh gagahnya Semeru dan dapat dibaca oleh tawarnya danau
Ranu Kumbolo.
Begitulah
ritual kami setiap tahun, entah itu hanya kebiasaan kami. Namun, kami percaya
sang motivator abadi dapat memberikan kami kepercayaan akan kesuksesan.
"Hey
Nia? Apa isi surat yang kamu tulis?" tanyaku dengan penuh penasaran
"Ada
banyak sekali!" jawabnya sambil tersenyum
"Ceritakan
padaku! Akan kuceritakan juga isi surat tulisanku padamu! jawabku sambil
tertawa
"Hahahaha...
Baiklah, tapi jangan beritahu kepada siapapun ya!" jawabnya tertawa
"Aku
berjanji" balasku dengan girangnya
"Aku
menulis keinginan untuk menjadi seorang pebasket nasional. Yang dapat sukses
dan menghasilkan banyak uang. Aku juga ingin merubah Ranu Kumbolo menjadi
tempat yang disukai setiap orang. Dan membuat lapangan basket yang bagus didesa
kita" jawabnya penuh harap memandangku
"Aku
juga berkeinginan sepertimu, Nia. Ingin menjadi pemain basket yang kuat dan
tinggi seperti Semeru, dan lemah lembut serta berhati jernih, seperti Ranu Kumbolo!"
kataku
"Kalau
begitu kita akan menjadi pebasket nasional bersama!" jawabnya sambil
memandangku dan mengangkat jari kelingkingnya
"Aku berjanji"
sambil terheran aku meraih jari kelingkingnya dengan jari kelingkingku sambil
berjanji.
Sejak saat
itu, kami lebih memiliki ambisi untuk menjadi pebasket nasional daripada
pegawai pemerintahan. Aku tahu sifat Ghania, dia tidak ingin diperbudak jabatan.
Menjadi orang yang hanya mengerjakan tugas didepan komputer adalah suatu hal
yang tabu dalam pikirannya. Dia hanya suka bermain basket bersamaku. Sungguh
giat dia berlatih, hingga menjadi pebasket terbaik didesa waktu itu. Namun, Aku
juga tidak mau kalah, kami bahkan sangat sering berlatih bersama, sehingga
orang-orang didesa menganggap kami orang yang sangat ambisius. Masyarakat
didesa tidak banyak yang menyukai bola basket, itu terbukti karna tida
seorangpun dari desa yang dapat sukses sebagai atlit basket. Keluarga adalah
faktor pendorong kami untuk selalu giat berlatih. Tentunya dengan motivator
abadi kami, Ranu Kumbolo.
Hingga suatu
hari, pada 29 Juni 2013, tepat pada ulang tahun sahabatku, Ghania. Aku telah
menyiapkan sepucuk surat untuk kuberikan padanya. Pada pagi 29 Juni tersebut,
surat tulisanku untuknya kuletakkan disamping pohon beringin besar tempat kami
sering tidur siang di tepi danau Ranu Kumbolo. Aku berharap siang itu ia dapat
mengambil suratnya yang berisi peta penunjuk arah menuju tempat kusembunyikan
hadiahku untuknya. Yaitu di samping batu besar tempat kami sering terjun ke
danau untuk mandi.
Beberapa
hari dari hari ulang tahunnya, Ghania tidak pernah lagi berbicara dan tidak
pernah lagi menemuiku. Awalnya aku hanya beranggapan mungkin dia sibuk. Tetapi
setelah dipikir pikir ternyata dia bukan orang yang memiliki banyak urusan. Aku
tetap berpikiran positif bahwa mungkin dia sedang ada masalah keluarga. Hingga
kutanyai kepada Ibu Ratna, Ibu dari sahabatku, Ghania.
"Permisi
bu?" kucium tangan Ibu Ratna
"Ada
apa adik Putri? Tanyanya dengan raut muka penuh senyuman
"Tidak
kok bu, saya hanya ingin bertanya, apakah keluarga sedang ada masalah?"
kataku penasaran
"Tidak
ada kok, keluarga kami baik-baik saja. Ada apa adinda bertanya seperti itu?"
jawabnya dengan lemah lembut
"Saya
hanya ingin tahu, mengapa Ghania tidak pernah lagi menemui saya!" kataku
mengeluh
"Ohh,
Ghania sekarang lebih suka mengurung diri dikamarnya, Ibu juga bingung!"
jawab ibu Ratna dengan heran
"Mungkin
dia sedang mendapat masalah, kita biarkan saja dulu bu!" jawabku memberi
solusi.
Hingga satu
bulan berlalu tepat pada pagi mei 2013. Aku berpapasan dijalan dengannya.
Namun, dia tak menghiraukanku, justru memalingkan pandangannya dan kembali
berjalan. Aku mulai bingung, sebenarnya apa yang terjadi pada sahabatku itu.
Hingga kuberanikan diriku untuk menemuinya.
"Ghania?"
Aku memanggilanya tapi dia tidak menjawab
"Ghania?"
Aku memanggil untuk kedua kalinya, namun dia tetap tidak menjawab
Hingga aku
berdiri dihadapannya sembari memegang tangannya.
"Ghania
sahabatku, mengapa dirimu menjauhiku? Apakah salahku padamu? Tanyaku
Ghania terdiam
dan ingin lekas pergi
"Aku
hanya ingin memberi tahu, bahwa bulan depan akan ada seleksi pebasket untuk
bisa bergabung dengan tim basket ternama tanah air, Surabaya Fever!" ajakku
Dia tetap
terdiam, walau aku tahu dia sangat berkeinginan mengikutinya.
"Ini
adalah kesempatan kita, kita telah berlatih bertahun-tahun. Kita dapat menjadi
pebasket nasional. Kita harus mengikutinya!" Kataku dengan bujukan kepadanya
Tanpa
sepatah katapun dia pergi meninggalkanku.
Satu bulan
berlalu, yaitu pada pertengahan Agustus. Hingga tiba saatnya waktu penyeleksian
dibulan Juni. Aku pergi tanpa seorang sahabatku. Berharap dapat berjuang sendiri
mengalahkan lawan-lawan yang akan kuhadapi nantinya.
Setelah semua
calon pebasket Surabaya Fever berkumpul, kami dibentuk menjadi 4 tim. Dan sungguh
tidak disangka, ternyata Ghania, sahabatku juga mengikuti seleksi ini. Hingga
akhir penyeleksian tahap awal kami tidak pernah bercakap masalah apapun. Sampai
keluarnya hasil pengumuman penyeleksian tahap pertama. Secara mengejutkan, namaku
dan nama Ghania termasuk kedalam pemain-pemain yang lulus tahap pertama.
Tahap kedua,
pada pertengahan september 2013. Kami melakukan seleksi tahap kedua dengan format
yang sama. Yakni dibentuk dua tim yang akan bertanding. Tim yang menang akan
diambil salah satu dari pemainnya untuk menjadi pemain Surabaya Fever.
Dengan sangat
tidak terduga, Aku berada pada satu tim yang sama dengan sahabatku, Ghania.
Siapa yang paling banyak mencetak poin, maka dialah yang akan menjadi pemenang
seleksi tahap kedua sekaligus tahap akhir penyeleksian.
Kami berdua
bermain sungguh-sungguh dan mencetak banyak sekali angka. Kedua tim bahkan
setiap pemain berambisi untuk mencetak poin terbanyak guna memenangkan seleksi.
Sepanjang permainan, Ghania sangat bersikap egois padaku, tidak ada satu operan
bola pun yang diberikannya kepadaku. Sepertinya dia sangat berambisi untuk
menang, kataku dalam hati.
Hingga pada
menit-menit akhir pertandingan, kami berdua mencetak poin yang sama, 32 poin.
Pertandingan semakin krusial, hingga hanya memiliki satu menit babak terakhir.
Semua pemain sangat bersungguh-sungguh dalam menit akhir ini. Hingga tersisa 20
detik lagi, bola tepat berada ditangan Ghania. Aku sudah berfikir senang dan
berharap dia dapat memasukkan bola kedalam ring dan memenangkan pertandingan.
Dengan sigap
ia melewati hampir semua pemain lawan. Hingga tersisa satu pemain lawan yang
akan menghalanginya. Disaat waktu tinggal tersisa 10 detik lagi, dengan lenturnya
ia melewati pemain terakhir dan tinggal memasukkan bola kedalam ring. Dia
terdiam dan tidak memasukka bola kedalam ring, melainkan mengoper bole tersebut
kepadaku yang tidak jauh berada diekat ring. Dia berkata dengan suara lantang.
"Ayo
selesaikan pertandingan ini!" ucapnya dengan lantang dan suara keras
Aku langsung
melempar bola kedalam ring dan bola tersebut masuk bersamaan setelah itu peluit
akhir dibunyikan. Poin untukkunya adalah 32, sedangkan untukku adalah 34.
Dengan hasil ini, aku berhasil memenangkan pertandingan dan menjadi pemain
resmi Surabaya Fever. Setelah pertandingan, aku menemuinya dan memeluknya sembari
menangis dengan harunya. Dia adalah seorang pribadi yang kuat, pantang menagis,
kala itu juga dia mengucurkan air mata dan memelukku erat.
Sejak saat
itu, aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Sudah tiga bulan berlalu, hingga
pada malam tahun baru, aku menulis surat sebagai "ritual" untuk
diberikannya kepada Ranu Kumbolo. Tepat pada keesokan harinya, aku pergi ketepi
danau Ranu Kumbolo guna mengirimkan sepucuk surat yang berisi rasa terimakasih
sekaligus menginginkan bertemu dengan sahabatku dan kembali dapat berteman
seperti dahulu.
Setelah surat
itu kuletakkan pada rakit kecil yang kami buat. Aku pergi menuju pohon beringin
tempat kami biasa tidur siang. Dan kebetulan mataku melirik pada satu tempat
yang ditutupi dahan dan dedaunan kering. Sontak aku membukanya dan melihat
sebuah surat. Setelah kubuka, ternyata itu adalah surat ucapan ulang tahunku
kepada Ghania, sahabatku. Aku bersandar lesu kepohon beringin itu, mengingat mengapa
Ghania menjauhiku selama ini.
Tak lama
dari situ Ghania juga datang dengan suratnya dan segera ingin pergi. Aku
menemuinya sambil menangis dan memberikan surat yang telah berusia enam bulan
itu kepadanya. Dia pun menangis tersedu-sedu tak karuan. Merasa bersalah
kepadaku. Hingga dia membuka surat itu, dan membaca ucapan selamat ulang tahun
dariku serta melihat peta penujuk arah. Sambil menangis dan terharu, kami
mengikuti arah peta tersebut hingga menjumpai sebuah kotak disamping batu, kotak
yang sudah usang penuh debu dan tertimbun sedikit kerikil dan dedaunan. Lekas
ia membukanya dan menjumpai satu set peralatan basket lengkap dengan buku
biografi pebasket idolanya, Micheal Jordan.
Sejak dari
saat itu kami tetap rutin mengunjungi Ranu Kumbolo dan Semeru. Aku mulai bekerja
sebagai atlit profesional, memiliki penghasilan yang lebih dari cukup. Aku juga
sudah dapat membuat satu lapangan basket didesaku. Dan membuat banyak orang
mengunjungi Ranu Kumbolo. Hingga aku dapat memberikan sejumlah uang dan
beberapa cabang usaha untuk sahabat yang telah mengorbankan karirnya hanya
untukku. Tak jarang aku sering mengunjunginya, yang tengah berjualan serabutan.
Aku tidak akan pernah melupakan jasanya untuk hidupku. Dialah sahabat terbaik bagiku.
Dan dia akan tetap mejadi sahabat sejati bagi diriku.
Terimaksih Ghania,
Terimakasih
Semeru,
Terimaksih
Ranu Kumbolo, sang motivator abadi.
Komentar
Posting Komentar