Paket Kangen dan J&T Express
***
Suatu malam, usai membaca surat-suratmu aku berinisiatif mengirim kangen ini langsung kepadamu, tak lagi melalui pesan singkat di udara melainkan langsung ke tanganmu. Tentunya melalui salah satu ekspedisi termasyur di kotaku, supaya lebih aman dan terpercaya.
Perlahan aku mulai mem-packing kangen-kangen itu. Aku mulai menimbang-nimbangnya dengan tangan, barangkali beratnya sekitar sekiloan. Awalnya kangen-kangen itu ingin kubungkus dengan kardus atau plastik berwarna hitam tapi alangkah sialnya si pemilik warung menggerutu bahwa dia tak lagi menjual barang apapun yang berwarna hitam.
***
"Aku tidak memiliki apapun barang yang berwarna hitam setelah Tuhan mengambil suamiku, pergi sana !!!" Pungkas pemilik warung dengan nada membentak
Dengan dahi yang berkerut, aku meninggalkan warung itu.
"Apa salahnya dengan warna hitam, toh walaupun dia tidak lagi menjual barang apapun yang berwarna hitam Tuhan juga tidak mengembalikan suaminya lagi" jawabku dalam hati
***
Sesampainya di rumah, ku bungkus kangen itu dengan kertas warna merah, bukannya aku takut pada pemilik warung, tetapi melelahkan sekali jika aku harus berhadapan dengan pemilik warung yang lain dan bisa saja aku mendapatkan perlakuan yang sama. Di kotaku orang-orang begitu pemarah karena sudah begitu penat dengan problematika hidup yang tiada berkesudahan.
"Baiklah, kangennya sudah selesai ku bungkus, aku akan segera ke ekspedisi terdekat untuk mengirimkan kangen ini, sebaiknya kububuhi satu ciuman supaya kangen ini terlihat sempurna", bisikku dalam hati sambil mengambil lembaran buku dan menciumnya.
***
Seraya membawa tentengan paket kangen, aku mulai menghidupkan motor bebekku dan melaju ke ekspedisi terdekat, Sesampainya aku di tempat ekspedisi tersebut, ku ambil pena dan menuliskan alamat tujuan lalu kuberikan paket itu kepada CS-nya dengan hati yang penuh harap dan kangen yang membuncah.
"Bang, tolong kirimkan kangen ini ke alamat yang tertera di sini ya", pintaku kepada CS yang sedang sibuk menjajaki keyboard komputer
"Iya dek, sebentar ya saya cek dulu" jawabnya
"Baik bang, kangennya bisa sampai ke tempat tujuan dalam berapa hari ya?" Tanyaku, penasaran
"Tiga hari dek", jawab CS-nya dengan mata masih tertuju pada monitor komputernya.
"Itu express kan?" tanya ku, cemas
Karena aku berharap kangen itu sampai dalam waktu yang cepat, kalau bisa ya secepat kilat.
"Iya, express kok. Kangennya mau dikirim semua atau setengah?" Tanya si CS
"Semuanya lah bang, mana boleh setengah-setengah nanti gak afdhol" ucapku sambil tertawa kecil dengan wajah yang ditutupi masker hitam"
"Baik dek, sudah selesai", pungkas si CS dengan mata menyipit dibalik masker berwarna biru, sebuah pertanda bahwa dia sedang tersenyum.
"Tiga hari kemudian kangen itu akan sampai, ku harap kau menyukainya," lirihku dalam hati sambil keluar dari ruangan ekspedisi.
Komentar
Posting Komentar