KISAH SEEKOR NGENGAT

By: Desi Ulvia

Dahulu kala di sebuah hutan belantara hiduplah seekor Ngengat yang selalu merasa kesepian, ia berjalan menyusuri hutan untuk mencari teman. Ketika sedang dalam perjalanan sang Ngengat bertemu dengan seekor Burung hantu, burung hantu pun bertanya kepada sang Ngengat.

“Kau akan pergi kemana wahai Ngengat?” Tanya Burung hantu

“aku ingin pergi menyusuri hutan” jawab sang Ngengat dengan singkat

“bermalamlah di tempatku, hari sudah semakin larut, jika kau pergi maka malam akan  melahapmu dalam gelap,” pinta Burung hantu

“tidak  Burung hantu, terima kasih. Aku harus mencari sesuatu yang membuatku merasa hidup, atau hidupku akan semakin terasa sia-sia. Hatiku terasa begitu hampa, barangkali aku harus pergi untuk mencari seorang teman” jawab Sang Ngengat sambil melihat ke ujung jalan.

“Bertemanlah dengan hewan  yang ada di hutan ini, kau selalu saja menutup diri” jawab burung hantu dengan nada yang iba.

Sang Ngengat pun berlalu tanpa memberikan jawaban apapun kepada Burung hantu, ia terus berjalan menyusuri hutan seraya menenggelamkan diri dalam gelapnya malam.

***

Setelah beberapa hari menyusuri hutan, melewati lembah dan bukit sang Ngengat pun merasa lelah. Hari kembali menjadi gelap, ia pun memutuskan beristirahat dan hinggap di sebuah pohon besar. Dari kejauhan ia melihat cahaya yang berwarna merah di tepi sungai  yang tak jauh dari pohon itu. Cahaya merah yang menyala dan begitu memukau hingga sang Ngengat tak dapat memalingkan wajahnya. Cahaya merah yang membuatnya merasakan dilahirkan kembali oleh semesta.

“wahhh, indah” pungkas sang Ngengat sambil melihat cahaya merah itu

“Jangan mendekati cahaya merah itu” timpal Tarantula membuyarkan pandangan Sang Ngengat

Sang ngengat pun tersentak sambil bertanya “apakah kau belum tidur?”

“aku peringatkan, jangan mendekati cahaya merah itu. Manusia sering kali membawanya ke sini, mereka menyebutnya dengan sebutan api, ku dengar itu sangat berbahaya untuk makhluk sepertimu” jawab Tarantula dengan nada tegas.

“aku memiliki segalanya di tempat tinggalku, tetapi rasanya seperti aku tak memiliki apapun. Hatiku begitu hampa dan semua yang ada benar-benar tidak bernilai. Namun sekarang rasa hampa itu telah  hilang, saat aku hinggap di pohon besar ini dan melihat ke tepi sungai, aku menemukan hidupku, cahaya merah di tepi sungai itu telah membuatku jatuh cinta, dan aku menginginkannya” pungkas sang Ngengat sambil terus menatap cahaya merah yang ada di tepi sungai.

“kau sudah gila, rasa cintamu itu akan membinasakanmu” jawab Tarantula.

”Jika aku binasa, maka biarlah demikian. Aku sudah melakukan sesuatu untuk hidupku dan mencegah kesia-siaan. Kau tau, ketakutan terbesarku adalah menjadi seseorang yang hatinya kosong dan merasa sia-sia” pungkas sang Ngengat.

”Terserah kau saja, aku sudah memperingatkanmu” jawab tarantula dengan nada kesal seraya meninggalkan Sang Ngengat dari pohon besar itu.

 

Tak lama kemudian, sang Ngengat pun terbang mendekati Api, ia begitu kaget saat sayapnya terasa panas ketika ia mulai mendekati cahaya merah yang diinginkannya itu.

Sang Ngengat pun terbang dan hinggap di sebuah pohon tua yang sekarat, ia melihat dan merasa heran, kenapa manusia bisa duduk berdekatan dengan api dan terlihat begitu bahagia. Sementara ia hanya bisa melihat dari kejauhan.

“kenapa mereka bisa mendekati cahaya merah itu, sedangkan sayapku seketika terasa begitu panas jika aku mendekatinya.” Bisik sang Ngengat dalam hati

 

Sang Ngengat begitu berhastrat memiliki Api, ia ingin hidup bersamanya. Cahaya merah itu benar-bener mengusir kesepian yang selama ini  menyelimuti hatinya.  Ia terus berfikir apa yang harus dilakukannya agar dapat memiliki api.

“aku ingin memilikinya, aku akan masuk ke dalamnya” ucap sang Ngengat dengan penuh keyakinan

Sang Ngengat pun kembali mengepakkan sayapnya, ia masuk kedalam kobaran api yang dibuat oleh manusia untuk menghangatkan diri dikala malam. Seketika sayap dan tubuh sang Ngengat pun dilahap oleh cahaya merah itu, ia pun terbakar. Cahaya merah yang membuatnya kembali berhasrat dan hidup ternyata menjadi akhir dari pencariannya, menjadi mengusir kesepian yang telah lama mendekam hati sang Ngengat. Sang Ngengat pun mati bersama rasa cinta yang tak pernah ia miliki.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Time, Priority and Focus

Berhenti dan Pulang